Ali Larijani Tewas, Iran Bersumpah Membalas Keras

750 x 100 AD PLACEMENT

NarayaPost – Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran Ali Larijani tewas dalam sebuah serangan Israel.

Kantor berita Iran Tasnim pada Rabu (18/3/2026) melaporkan, Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran mengonfirmasi kematian Ali Larijani.

Dewan tersebut mengatakan Larijani meninggal dunia pada Selasa (17/3/2026) dini hari bersama putranya, Morteza Larijani; deputi urusan keamanan di sekretariat dewan tersebut Alireza Bayat; serta beberapa orang lainnya.

Dewan tersebut memuji pengabdian panjang Larijani bagi pembangunan Iran, dan menyerukan persatuan nasional dalam menghadapi ancaman eksternal.

Pada Selasa, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan Israel telah membunuh Larijani.

Sementara, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran pada Selasa mengonfirmasi kematian Gholamreza Soleimani, komandan pasukan sukarelawan Basij, dalam serangan Amerika Serikat (AS)-Israel.

BACA JUGA: Israel Lanjutkan Perang Lawan Iran Hingga Tiga Minggu Lagi

Presiden Iran Masoud Pezeshkian bersumpah akan membalas keras pembunuhan terhadap Ali Larijani.

“Tentu saja, pembalasan keras menanti para teroris kriminal yang, selama agresi mereka, menumpahkan darah para martir dari tanah suci Iran,” kata Pezeshkian , Selasa (17/3/2026).

Ia juga menyampaikan belasungkawa atas kematian Larijani.

Gunakan Rudal Haj Qasem

Iran untuk pertama kalinya menggunakan rudal Haj Qasem dalam perang melawan AS-Israel.

IRGC menyatakan rudal tersebut digunakan dalam rangkaian operasi militer terbaru, termasuk fase ke-59 operasi True Promise 4 yang menargetkan pangkalan militer AS di Qatar, Kuwait, Bahrain, Uni Emirat Arab, serta Kurdistan Irak.

Garda Revolusi juga melaporkan serangan terhadap sejumlah kota di Israel, termasuk Tel Aviv, Yerusalem Barat, dan Beit Shemesh.

Menurut laporan Fars, Haj Qasem termasuk dalam rudal yang diluncurkan dalam serangan tersebut, yang menandai penggunaan perdananya selama konflik saat ini.

Rudal tersebut, yang digunakan dalam konflik dengan Israel pada Juni 2025, digambarkan sebagai rudal balistik taktis berbahan bakar padat.

Diperkenalkan pada 2020, rudal itu diklaim memiliki jangkauan sekitar 1.400 kilometer.

Belum Siap

Presiden AS Donald Trump mengatakan, Washington belum siap mengakhiri konflik dengan Iran, yang sudah memasuki pekan ketiga.

“Saat ini kami belum siap menyudahi (konflik), tetapi kami akan segera mengakhirinya dalam waktu dekat,” kata Trump kepada para wartawan di Gedung Putih.

Ketika ditanya apakah Gedung Putih memiliki rencana selanjutnya untuk konflik dengan Iran, Trump tidak memberikan penjelasan apa pun, seraya mengulang klaim Iran telah hancur dari segala aspek sejak AS dan Israel memulai serangan besar-besaran terhadap Iran pada 28 Februari.

Iran membutuhkan waktu satu dekade untuk membangun kembali, katanya.

Trump mengatakan kepada para wartawan, jika dia mengerahkan pasukan darat AS ke Iran, ia tidak khawatir hal itu akan berubah menjadi Vietnam lainnya bagi AS.

Para analis setempat mengatakan jika Washington berencana menguasai Pulau Kharg, pusat ekspor minyak utama Iran, serta menargetkan berbagai fasilitas bawah tanah di Isfahan yang diyakini menyimpan sebagian besar material nuklirnya, operasi darat AS atau Israel kemungkinan akan diperlukan.

Situs Bersejarah Hancur

Kementerian Warisan Budaya dan Pariwisata Iran mengatakan ,serangan AS dan Israel menghancurkan lebih dari 100 situs bersejarah di negara itu.

“Jumlah situs bersejarah dan budaya yang rusak akibat serangan AS dan rezim Zionis di berbagai tempat telah mencapai 108,” kata kementerian tersebut seperti dikutip kantor berita Tasnim.

Dari jumlah tersebut, 60 situs terletak di Teheran, 19 di Isfahan, dan 12 di provinsi Kurdistan barat laut.

Tak Butuh Bantuan NATO

Donald Trump mengatakan AS tak lagi membutuhkan bantuan negara-negara anggota NATO, untuk mengamankan Selat Hormuz di tengah konflik melawan Iran.

“AS telah diberi tahu oleh sebagian besar ‘sekutu’ kami di NATO, mereka tak ingin terlibat dalam operasi militer kami melawan rezim Iran.”

“Karena keberhasilan militer yang telah kami capai, kami tidak lagi membutuhkan atau menginginkan bantuan negara-negara NATO — kami memang tak pernah membutuhkannya,” tulis Trump di Truth Social.

Sebelumnya, Trump meminta Cina, Prancis, Jepang, Korea Selatan, Inggris, dan negara lain, mengirim kapal perang ke Selat Hormuz, untuk mengamankan salah satu jalur pelayaran terpenting dunia bagi perdagangan minyak global.

Trump mengaku tidak yakin para sekutu di NATO bersedia membela AS, berbeda dengan komitmen AS terhadap aliansi pertahanan tersebut.

Trump juga mengaku bakal segera mengumumkan negara-negara yang setuju bergabung dengan koalisi yang diusulkan Gedung Putih untuk mengawal kapal-kapal melewati Selat Hormuz, jalur air utama yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dunia.

BACA JUGA: Perang Koalisi Amis Vs Iran Berlanjut Beberapa Pekan Lagi

“Ada beberapa (negara). Kami akan segera mengumumkan beberapa nama. Ada beberapa yang memang sudah berada di barisan terdepan,” cetus Trump.

Tapi, tampaknya banyak sekutu AS menolak berpartisipasi.

Pada Senin, Trump berulang kali mengkritik sekutu-sekutu Eropa atas keengganan mereka dalam menanggapi seruannya bergabung dalam pengawalan tersebut.

“Masalahnya dengan NATO adalah kita selalu ada untuk mereka, tetapi mereka tidak pernah ada untuk kita,” ucapnya. (*)

750 x 100 AD PLACEMENT

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like