NarayaPost – Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) akibat konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran mulai menimbulkan kekhawatiran di berbagai sektor, mulai dari produsen hingga konsumen. Namun di tengah ketidakpastian tersebut, sebagian pelaku usaha justru melihat peluang baru, terutama di pasar kendaraan listrik. Harga BBM naik itu menimbulkan banyak masyarakat ingin beralih memakai kendaraan listrik.
Salah satunya adalah Martin Miller, pemilik dealer mobil listrik bekas di barat daya London. Ia mengaku mengalami lonjakan permintaan yang signifikan hanya dalam waktu singkat setelah konflik pecah pada 28 Februari lalu. Bahkan, Miller menyebut hari Sabtu sebagai hari tersibuk dalam operasional bisnisnya.
Lonjakan ini tidak lepas dari dampak konflik yang mengganggu jalur distribusi minyak global, khususnya di Selat Hormuz—jalur penting yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dunia. Gangguan ini memicu kenaikan harga BBM secara global dan meningkatkan kekhawatiran konsumen akan lonjakan biaya transportasi.
BACA JUGA: Israel Lanjutkan Perang Lawan Iran Hingga Tiga Minggu Lagi
“Kami menjual mobil dengan sangat, sangat cepat,” ujar Miller, seperti dikutip Reuters, Rabu (18/3).
Menyikapi tren tersebut, Miller kini berpacu menambah stok kendaraan listrik. Ia dan timnya aktif berburu mobil listrik di berbagai pelelangan, dengan keyakinan bahwa situasi ini akan berlangsung dalam waktu yang tidak singkat.
“Karena kami yakin situasi ini akan berlanjut,” katanya.
Data pemerintah Inggris menunjukkan bahwa hingga 16 Maret, harga BBM rata-rata telah naik sekitar 7 persen sejak konflik dimulai. Di kawasan Uni Eropa, kenaikan bahkan mencapai 8 persen. Sementara itu, di Amerika Serikat, lonjakan lebih tajam terjadi dengan kenaikan hingga 27 persen, mencapai USD 3,72 per galon berdasarkan data Badan Informasi Energi AS per 17 Maret.
Kenaikan harga energi ini secara historis memang sering memicu perubahan perilaku konsumen. Pada krisis energi 1970-an, misalnya, masyarakat Amerika Serikat beralih ke kendaraan yang lebih kecil dan hemat bahan bakar, yang pada akhirnya menguntungkan produsen mobil Jepang.
Namun, analis menilai kondisi saat ini belum tentu langsung mengubah preferensi konsumen secara drastis. Direktur intelijen ekonomi dan pasar di CarGurus, Kevin Roberts, mengatakan bahwa konsumen biasanya membutuhkan waktu hingga harga mencapai ambang psikologis tertentu sebelum benar-benar beralih.
“Konsumen sangat responsif terhadap harga BBM, tapi biasanya harus menunggu hingga mencapai angka tertentu. Ambang batas USD 4 per galon bisa jadi titik yang perlu diperhatikan,” ujarnya.
Meski demikian, sebagian konsumen memilih bertindak lebih cepat. Di Amerika Serikat, seorang pembeli bernama Zach Xavier memutuskan menukar SUV berbahan bakar bensin miliknya dengan kendaraan listrik, bahkan membeli tambahan mobil listrik berukuran kecil.
“Saya mencoba membelinya sebelum semua orang panik,” katanya.
Meski ada peningkatan minat, data dari platform seperti Edmunds menunjukkan perubahan masih relatif terbatas. Pangsa pencarian kendaraan listrik hanya naik tipis dari 20,7 persen menjadi 22,4 persen pada pekan pertama setelah konflik.
Sebaliknya, di Eropa, potensi pergeseran ke kendaraan listrik dinilai lebih besar. Tahun lalu, kendaraan listrik sudah menyumbang 19,5 persen dari total penjualan mobil, ditambah dengan insentif pajak yang kembali diperkenalkan pemerintah.
Di Jerman, misalnya, platform dealer online MeinAuto mencatat peningkatan lalu lintas terkait kendaraan listrik hingga 40 persen sejak konflik dimulai. Survei dari Carwow juga menunjukkan 48 persen responden mempertimbangkan kendaraan listrik atau hybrid akibat kenaikan harga BBM.
Sejumlah produsen pun mulai memanfaatkan momentum ini. VinFast, misalnya, menawarkan diskon khusus bagi konsumen yang beralih dari kendaraan berbahan bakar bensin ke kendaraan listrik.
BACA JUGA: Aturan Baru Rusun Subsidi Terbit Akhir Bulan Ini: Tenor KPR Jadi 30 Tahun
Meski demikian, di pasar Amerika Serikat, peralihan besar-besaran dinilai belum akan terjadi dalam waktu dekat. Penjualan kendaraan listrik masih relatif kecil, sekitar 7,7 persen dari total penjualan mobil baru tahun lalu, dan cenderung menurun setelah penghapusan insentif pajak oleh pemerintahan Donald Trump.
Riset dari Cox Automotive menunjukkan sebagian besar konsumen baru akan mempertimbangkan beralih jika harga BBM mencapai USD 6 per galon. Hingga saat itu, ketidakpastian ekonomi, termasuk inflasi dan kebijakan tarif, masih menjadi faktor penahan utama.
Dengan dinamika ini, kenaikan harga BBM akibat konflik global memang mulai mendorong perubahan perilaku konsumen, namun transformasi menuju kendaraan listrik tampaknya masih akan berlangsung secara bertahap, tergantung pada seberapa lama dan seberapa tinggi lonjakan harga energi terjadi.