NarayaPost – Presiden Rusia Vladimir Putin menyebut mendiang Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran Ali Larijani, sebagai ‘sahabat sejati’ Rusia.
Putin mengaku sedih mendengar Ali Larijani tewas akibat serangan Israel pada Selasa (17/3/2026) lalu.
“Terimalah belasungkawa terdalam kami atas meninggalnya Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Republik Islam Iran Ali Larijani.”
“Sampaikan belasungkawa dan dukungan tulus saya kepada keluarga dan teman-teman almarhum,” tulis Putin dalam surat belasungkawa untuk Pemimpin Tertingi Iran Mojtaba Khamenei setelah pembunuhan terhadap Larijani.
Dikutip dari Al Jazeera, Putin punya hubungan cukup dekat dengan Larijani.
Putin sempat beberapa kali bertemu Larijani.
“Kenangan indah tentangnya sebagai sahabat sejati negara kita, yang telah banyak berkontribusi pada pengembangan kemitraan strategis komprehensif antara Moskow dan Teheran, akan tetap ada di hati kita,” tulis Putin.
Sebelumnya, Juru Bicara Kremlin Dmitry Peskov mengatakan Rusia mengutuk tindakan Israel membunuh Larijani.
“Kami mengutuk keras tindakan yang bertujuan membahayakan kesehatan dan, terlebih lagi, pembunuhan terhadap kepemimpinan Iran yang berdaulat dan merdeka,” kata Peskov.
Rusia adalah salah satu mitra terdekat Iran.
Rusia mengutuk serangan AS-Israel terhadap Iran dan menyebutnya sebagai “tindakan agresi bersenjata tanpa provokasi,” serta menyerukan diakhirinya perang.
Rusia dilaporkan memberikan bantuan intelijen dan nasihat kepada Iran tentang taktik drone.
BACA JUGA: Ali Larijani Tewas, Iran Bersumpah Membalas Keras
Namun, Kremlin membantah laporan tersebut.
Iran menyatakan Ali Larijani tewas dalam serangan udara yang dilancarkan Amerika Serikat (AS) dan Israel, saat berada di kawasan pinggiran Teheran, Selasa.
Reuters melaporkan, Larijani tewas ketika sedang mengunjungi putrinya di wilayah timur ibu kota.
Larijani (67) tidak berada di fasilitas militer atau pemerintahan saat serangan terjadi.
Ia disebut tengah melakukan kunjungan pribadi ke rumah keluarganya, ketika serangan udara menghantam lokasi tersebut.
Laporan menyebut serangan dilakukan melalui operasi udara yang menargetkan lokasi spesifik di pinggiran Teheran.
Tokoh Penting
Larijani salah satu figur paling berpengaruh dalam sistem politik Iran.
Ia dikenal sebagai arsitek kebijakan keamanan nasional dan penasihat dekat pemimpin tertinggi Ayatollah Ali Khamenei, sebelum wafat dalam serangan udara bulan lalu.
Larijani pernah memimpin Dewan Keamanan Nasional Tertinggi, menjadi ketua parlemen selama 12 tahun, serta terlibat langsung dalam negosiasi nuklir Iran dengan negara-negara Barat.
Ia juga memiliki latar belakang militer sebagai komandan Korps Garda Revolusi Iran saat perang Iran-Irak pada 1980-an.
Larijani termasuk pejabat pertama yang angkat bicara setelah serangan AS-Israel dimulai pada 28 Februari lalu.
Ia menuduh serangan tersebut sebagai upaya melemahkan dan merampas kedaulatan Iran.
Ia pun memperingatkan potensi aksi protes domestik di tengah situasi perang, serta menegaskan sikap keras Iran terhadap pihak luar.
Kebijakan nuklir yang ia bantu rancang sebelumnya bertujuan mengembangkan kemampuan atom Iran tanpa memicu serangan langsung.
Namun, serangan terbaru ini dinilai mencerminkan kegagalan strategi tersebut.
Larijani sebelumnya juga sempat dijatuhi sanksi oleh AS, terkait dugaan perannya dalam penindasan aksi protes besar di Iran yang menewaskan ribuan orang.
Pernah Jadi Tokoh Reformis
Ali Larijani merupakan politisi veteran Iran yang kembali muncul sebagai pejabat keamanan Iran pada tahun lalu.
Larijani ditunjuk mendiang Ayatollah Ali Khamenei menjadi Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi pada Agustus 2025, setelah Ali Akbar Ahmadian dikabarkan melemah pasca-perang Israel-Iran pada Juni 2025.
Penunjukan Ali Larijani saat itu membuat banyak pihak heran, lantaran Khamenei sebelumnya menentang Larijani menduduki posisi tersebut.
Larijani punya sejarah tak baik dengan Guardian Council, yang mendiskualifikasinya dari dua pemilihan presiden terakhir karena alasan kurangnya “kehati-hatian” dan kurangnya pegalaman eksekutif yang memadai.
Larijani sebelum ini menjabat sekretaris Dewan Keamanan Nasional pada periode 2005 hingga 2007.
Menurut laporan Middle East Eye (MEE), Larijani dahulu merupakan tokoh reformis yang mendukung Iran menjalin hubungan dengan AS.
Rekam jejaknya menunjukkan ia terbuka akan hubungan diplomatik dengan Washington.
Selama menjabat Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi, Larijani terlibat dalam urusan luar negeri dan domestik Iran, mulai dari negosiasi nuklir hingga tindakan tegas Teheran terhadap kerusuhan.
Salah satu tindakan tegas ini tercermin dalam aksi represif otoritas Iran dalam demo sipil pada Desember 2025 lalu.
Mengenai urusan luar negeri, Larijani merupakan sosok yang dipercaya Khamenei mengurus negosiasi nuklir dengan AS.
Saat diwawancara media bulan lalu, ia menyatakan masalah nuklir ini Iran merupakan hal yang “dapat diselesaikan.”
“Jika kekhawatiran Amerika adalah agar Iran tidak mendekati tingkat senjata nuklir, hal itu bisa diatasi,” kata Larijani.
BACA JUGA: Iran Siap Permalukan Pasukan Darat Amerika Jika Menginvasi
Larijani menjabat ketua parlemen Iran dari tahun 2008 hingga 2020.
Selama masa jabatannya, Iran mencapai kesepakatan nuklir dengan enam kekuatan dunia.
Namun, pada 2018, AS menarik diri dari kesepakatan yang dicapai per 2015 tersebut.
Pasca serangan AS-Iran menewaskan Khamenei, Larijani mulai menggeser posisinya.
Ia menegaskan tak akan ada lagi negosiasi antara AS dan Iran.
Larijani menuduh AS dan Israel berupaya menghancurkan Iran serta mengancam akan menindak keras kelompok separatis yang macam-macam dengan Teheran.
Larijani selama ini juga memegang peran penting dalam hubungan Iran dengan negara-negara sekutu seperti Rusia dan Cina.
Pada Januari, ia terbang ke Moskow untuk menjadi utusan khusus Iran.
Ia juga terlibat dalam tercapainya kesepakatan 25 tahun antara Iran dan Cina.
Dahulu, ia juga berperan penting dalam Perang Iran vs Irak.
Larijani lahir di Najaf, Irak, pada 1958 dari keluarga terkemuka Iran.
Ia kemudian pindah ke Iran saat kecil dan menempuh pendidikan tinggi hingga mendapat gelar PhD filsafat.
Beberapa saudara lelakinya pernah memegang jabatan senior di pemerintahan, termasuk di bidang peradilan dan kementerian luar negeri.
Salah satu putrinya diberhentikan dari posisi pengajar kedokteran di Universitas Emory AS pada Januari, menyusul protes aktivis Iran-AS yang marah atas perannya dalam kekerasan di demo Iran.
Sepak terjang Larijani, latar belakang pendidikannya, serta riwayat keluarganya yang terdidik, sempat membuat dia jadi salah satu calon potensial pengganti Khamenei.
“Jaringan keluarga Larijani bisa dibilang merupakan jaringan kekuasaan paling berpengaruh yang saling terkait di jajaran atas rezim,” ulas media Turki TRT.
Meski begitu, tangan kanan Khamenei ini tidak dipilih oleh Majelis Ahli, kelompok ulama Syiah yang bertugas memilih pemimpin tertinggi.
Jabatan Khamenei diteruskan oleh putranya, Mojtaba Khamenei.
Media Kuwait Al Jarida sempat mengabarkan Larijani merupakan sosok di balik pidato perdana Mojtaba, yang dilaporkan terluka dalam serangan AS-Israel pada 28 Februari.
Kelompok reformis menyebut pidato Mojtaba identik dengan kalimat yang kerap diucapkan Larijani.
Mojtaba sendiri dikabarkan berada di Rusia untuk menjalani operasi atas cederanya.
Pragmatis
Kematian Larijani dinilai jadi pukulan besar buat Iran, sebab ia punya peran cukup strategis dalam sistem politik dan keamanan Iran.
Larijani menjabat sebagai sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, posisi yang menempatkannya di pusat pengambilan keputusan strategis negara.
Setelah pemimpin tertinggi Ayatollah Ali Khamenei tewas pada awal konflik, Larijani muncul sebagai salah satu figur paling dominan dalam struktur kekuasaan baru Iran.
Ia memainkan peran penting bersama dewan transisi yang mengelola negara di tengah krisis terbesar sejak Revolusi Iran 1979.
Ia juga dikenal sebagai ‘ultimate insider’ dalam sistem politik Iran, dengan pengaruhnya yang luas mulai dari kebijakan nuklir hingga hubungan regional dengan negara-negara seperti Rusia, Cina, dan kawasan Teluk.
Larijani menjadi salah satu wajah utama dalam merespons serangan AS dan Israel, termasuk menyampaikan pernyataan keras yang menegaskan sikap perlawanan Iran.
Mengutip Euronews, Larijani dipercaya mewakili kepentingan pemimpin tertinggi dalam mengelola hubungan luar negeri, menunjukkan tingkat kepercayaan yang sangat tinggi dari pucuk pimpinan Iran.
Ia juga disebut berperan dalam mengatur hubungan Iran dengan negara-negara besar seperti Rusia dan Cina, serta kawasan Timur Tengah.
Meski dikenal sebagai tokoh pragmatis, Larijani memiliki peran unik sebagai jembatan antara pendekatan diplomasi dan kebijakan garis keras Iran.
Ia terlibat langsung dalam negosiasi nuklir dengan Barat, termasuk kesepakatan nuklir 2015 (JCPOA), sekaligus tetap menjadi bagian dari elite yang mempertahankan sistem teokrasi Iran.
Larijani berasal dari keluarga ulama berpengaruh yang kerap dijuluki sebagai ‘Kennedys of Iran.’
Jaringan keluarganya menempati berbagai posisi penting di pemerintahan, termasuk di lembaga yudikatif dan dewan ulama, memperkuat pengaruh politiknya selama puluhan tahun.
Kedekatannya dengan lingkar dalam pemimpin tertinggi, termasuk dengan penerus kekuasaan, semakin mengukuhkan posisinya sebagai salah satu elite paling berpengaruh di Iran.
Dengan pengaruh besar yang dimilikinya, Larijani dianggap sebagai salah satu target utama dalam konflik dengan Israel.
Posisinya sebagai figur sentral dalam kebijakan keamanan dan militer, menjadikannya sasaran bernilai tinggi dalam upaya melemahkan struktur kekuasaan Iran. (*)