Trump Pertimbangkan Kurangi Serangan Terhadap Iran

750 x 100 AD PLACEMENT

NarayaPost – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengaku sedang mempertimbangkan mengurangi bertahap serangan militer terhadap Iran.

“Kami sudah sangat dekat untuk mencapai tujuan kami, seiring kami mempertimbangkan mengurangi secara bertahap upaya besar militer kami di Timur Tengah,” tulis Trump di Truth Social, Jumat (20/3/2026).

Tujuan yang diuraikan Trump mencakup melemahkan kemampuan rudal Iran, menghancurkan basis industri pertahanannya, melumpuhkan angkatan laut dan angkatan udaranya, mencegah mendekati kemampuan nuklir, serta melindungi para sekutu AS di seluruh kawasan itu.

Trump juga mengaku tak menginginkan gencatan senjata dengan Iran.

“Kita bisa berdialog, tetapi Anda tahu, saya tidak ingin melakukan gencatan senjata.”

“Anda tidak melakukan gencatan senjata ketika Anda benar-benar sedang melumpuhkan pihak lawan,” kata Trump sebelum bertolak dari Gedung Putih menuju Florida.

Ketika ditanya apakah Israel akan siap mengakhiri perang pada saat yang sama dengan Washington, Trump mengiyakan.

“Saya pikir begitu. Hubungannya sangat baik… Kami menginginkan hal-hal yang kurang lebih sama… Kami menginginkan kemenangan, kami berdua,” tuturnya.

Iran juga menolak gencatan senjata.

Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi minggu ini mengatakan, AS bertanggung jawab atas perang dan dampaknya pada kawasan yang lebih luas.

Pernyataan itu muncul beberapa jam setelah Trump menyebut ingin membuka dialog dengan Iran, namun menilai tak ada pihak untuk diajak bicara, usai serangan AS-Israel berminggu-minggu yang menewaskan pejabat tinggi Iran, termasuk Ali Khamenei dan Ali Larijani.

Dari sudut pandang militer, kata Trump, Iran sudah tamat karena tidak memiliki angkatan laut dan angkatan udara.

BACA JUGA: Tolak Gencatan Senjata, Iran Ingin Perang Berakhir Permanen

Dia juga menilai negara itu tidak memiliki perlengkapan, pengintai, sistem pertahanan anti-pesawat, dan radar.

“Dan para pemimpin mereka di semua tingkatan telah tewas,” imbuh Trump.

Menteri Luar Negeri Iran Seyed Abbas Araghchi mempertanyakan klaim berulang Gedung Putih, yang menyebut pertahanan udara dan Angkatan Laut Iran telah dihancurkan.

“Pemerintah AS mengatakan satu hal, kenyataan mengatakan hal lain,” tulis Araghchi di X.

Masih di Truth Social, Trump mengatakan Selat Hormuz, yang merupakan jalur laut krusial bagi energi global, seharusnya diamankan oleh negara-negara yang bergantung pada selat itu, dan Washington akan membantu jika diminta.

“Selat Hormuz harus dijaga dan diawasi, jika diperlukan, oleh Negara-Negara lain yang menggunakannya — AS tidak!”

BACA JUGA: Israel Lanjutkan Perang Lawan Iran Hingga Tiga Minggu Lagi

“Jika diminta, kami akan membantu Negara-Negara tersebut dalam upaya mereka di Hormuz, tetapi hal itu seharusnya tidak diperlukan setelah ancaman Iran diberantas,” tulis Trump.

Trump sebelumnya mengecam sekutu-sekutu NATO sebagai pengecut, karena enggan membantu pengawalan.

“Tanpa AS, NATO HANYALAH HARIMAU KERTAS!” Sindir Trump dalam unggahan sebelumnya di Truth Social.

Dalam pidatonya di Gedung Putih, Trump meremehkan ketergantungan AS pada Selat Hormuz, jalur pelayaran minyak global yang sangat penting, dengan sebagian besar pengiriman minyak melewatinya.

“Kita tidak menggunakan selat itu… Kita tidak membutuhkannya.”

“Eropa membutuhkannya. Korea Selatan, Jepang, Cina… Jadi mereka harus sedikit terlibat,” tambahnya.

Jalur air tersebut menjadi pusat perhatian energi global, sejak Korps Garda Revolusi Islam Iran mengumumkan penutupan bagi sebagian besar kapal, sebagai balasan atas serangan AS-Israel yang dimulai pada 28 Februari.

Setelah Trump meminta bantuan internasional untuk membuka kembali selat tersebut, banyak negara menolak, menunjukkan AS memulai perang saat ini tanpa konsultasi internasional, dan oleh karena itu perang tersebut menjadi tanggung jawab Trump.

Menyikapi perang AS-Israel kontra Iran, diplomat tertinggi Uni Eropa Kaja Kallas pada Senin (16/3/2026) mengatakan, Eropa tidak memiliki kepentingan dalam perang yang berkepanjangan tanpa akhir.

“Ini bukan perang Eropa, tetapi kepentingan Eropa secara langsung sedang dipertaruhkan,” cetus Kallas.

AS dan Israel melancarkan serangan militer gabungan terhadap Iran sejak 28 Februari, yang mengganggu pelayaran global, menyebabkan harga minyak melonjak, dan mengguncang perekonomian dunia. (*)

750 x 100 AD PLACEMENT

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like