NarayaPost – Leon Panetta, mantan menteri pertahanan sekaligus direktur Badan Intelijen Pusat Amerika Serikat (CIA) mengatakan, Presiden AS Donald Trump bertanggung jawab penuh atas krisis energi dunia buntut ditutupnya Selat Hormuz oleh Iran.
Panetta menyalahkan Trump atas eskalasi konflik di Timur Tengah yang mengakibatkan krisis energi global.
Menurutnya, Trump salah langkah karena bertindak naif layaknya bocah.
Dalam percakapan telepon dengan The Guardian, mantan perwira intelijen militer yang menjabat sebagai kepala staf Gedung Putih di pemerintahan Bill Clinton itu mengatakan, Selat Hormuz tak akan menjadi medan panas seperti sekarang, jika bukan karena keputusan kekanak-kanakan Trump.
“Dia cenderung naif tentang bagaimana sesuatu bisa terjadi.”
“Jika dia mengatakannya dan terus mengatakannya, dia berharap apa yang dia katakan akan menjadi kenyataan.”
“Tapi itu yang dilakukan anak-anak, itu bukan yang dilakukan seorang presiden,” kata Panetta.
Perang antara AS-Israel vs Iran yang dimulai pada 28 Februari telah menunjukkan tanda-tanda kekalahan bagi AS.
Serangan yang awalnya diharapkan menjadi pukulan telak bagi rezim Iran itu, kini menjadi lepas kendali.
13 tentara AS tewas dalam pertempuran ini.
AS memang membunuh Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, namun tak mengubah rezim, malah memperkuat pemerintahan teokratis Iran.
Trump mulai dirundung kesulitan menjual citra perangnya di dalam negeri.
BACA JUGA: Trump Siap Kerahkan 4.000 Pasukan Darat AS untuk Invasi Iran
Harga minyak naik tajam buntut perang ini, dan jajak pendapat serta koalisi pemilu mulai memperlihatkan penurunan dan perpecahan.
Direktur CIA dan menteri pertahanan ke-23 di bawah Presiden Barack Obama itu, yakin betul kondisi ini tak seperti yang dibayangkan Trump sebelumnya.
Ia memprediksi Donald Trump dan pemerintahannya sedang kelimpungan mencari cara untuk keluar dari krisis ini.
“Dia menghadapi masalah yang sangat sulit.”
“Apakah dia akan memperluas perang dengan mencoba membuka Selat Hormuz sehingga bisa menghilangkan pengaruh dan pada akhirnya bernegosiasi dengan Iran?”
“Atau apakah dia hanya akan pergi begitu saja dan menyatakan kemenangan, meskipun semua orang akan jelas memahami dia sudah gagal?”
“Dia berada dalam posisi yang sangat sulit saat ini, tapi tidak ada orang lain yang bertanggung jawab atas kondisi ini selain Donald Trump,” ulas Panetta.
Menurut Panetta, bukan hal sulit memperhitungkan dampak pada Selat Hormuz apabila suatu pihak memutuskan perang melawan Iran.
Masalah ini selalu menjadi topik pembahasan di setiap forum dewan keamanan, sehingga ia heran mengapa pemerintahan Trump tidak terpikirkan tentang ini.
“Bukan hal yang sulit untuk memahami jika Anda akan berperang dengan Iran, salah satu kerentanan terbesar adalah Selat Hormuz.”
“Dan itu dapat menciptakan krisis minyak yang sangat besar, yang dapat mendorong harga bahan bakar melambung tinggi.”
“Di setiap dewan keamanan nasional yang pernah saya ikuti, di mana kami membahas Iran, topik itu (Selat Hormuz) selalu muncul.”
“Entah karena alasan tertentu, mereka tidak menganggap itu bisa jadi konsekuensi, atau mereka mengira perang akan berakhir dengan cepat dan mereka tidak perlu khawatir tentang itu,” tuturnya.
Apa pun alasannya, Panetta percaya Trump dan pemerintahannya tak siap menghadapi kenyataan saat ini.
Apalagi, jika mengingat kepribadian Trump yang cenderung bicara dan bertindak sesukanya.
“Apa pun itu, mereka tidak siap menghadapinya dan sekarang mereka menanggung akibatnya.”
“Karena jika ada jalan keluar bagi Trump, itu adalah menyatakan kemenangan dan semuanya sudah berakhir dan kita telah berhasil mencapai semua target militer kita.”
“Masalahnya adalah dia bisa menyatakan kemenangan sesuka hatinya, tapi jika dia tidak bisa mendapat gencatan senjata, semuanya percuma.”
“Dan dia tidak akan mendapat gencatan senjata selama Iran terus mengancamnya dengan Selat Hormuz,” imbuh Panetta.
Kritik terus berdatangan, baik dari oposisi maupun pendukung Trump.
Di tengah tekanan ini, sekutu-sekutu AS juga tak banyak membantu.
Sikap para sekutu ini dapat dimengerti, karena hal itu buah dari pendekatan kasar Trump.
Trump berulang kali mengancam keluar dari NATO.
Ia bahkan mengolok para anggota NATO pengecut dan hanya macan kertas tanpa AS.
BACA JUGA: Donald Trump Pakai Firasat untuk Akhiri Perang Lawan Iran
“Jika Anda merencanakan perang, bukan ide buruk untuk bicara dengan sekutu Anda.”
“Aliansi penting untuk dapat mendukung segala jenis upaya militer.”
“Kita telah mempelajari itu sejak lama, sejak Perang Dunia Dua.”
“Tapi (Trump) mengambil pendekatan tak berperasaan terhadap aliansi, dan sekarang tiba-tiba dia berada di posisi harus meminta bantuan sekutu, NATO, dan pihak lain yang semuanya jelas tidak dia perlakukan dengan baik selama masa kepresidenannya, untuk mencoba membantunya keluar dari kesulitan.”
“Karma akan segera datang,” papar Panetta.
Menurut Panetta, hal yang bisa dilakukan Trump saat ini adalah meninggalkan khayalannya.
AS, lanjutnya, harus menggunakan kekuatan militer untuk menetralisir pertahanan Iran di sepanjang pantai, dan mengerahkan kapal untuk mengawal tanker minyak di Selat Hormuz.
Ia mengamini tindakan ini tentu akan memakan korban jiwa dan berpotensi memperluas perang.
Namun, ini cara paling efektif untuk mengatasi krisis energi dunia sekaligus memperbaiki citra AS.
“Ini adalah ujian apakah AS mampu mengatasi situasi tersebut.”
“Jika tidak, ini tidak hanya akan memperpanjang perang, tetapi juga menciptakan banyak kerusakan ekonomi bagi AS, dengan harga bahan bakar melonjak dan berujung pada resesi global.”
“Tidak banyak pilihan. Anda harus melakukan apa yang harus Anda lakukan.”
“Jika Anda dapat membuka selat, itu mungkin memberi Anda peluang lebih baik untuk memiliki dasar yang dapat digunakan untuk menegosiasikan gencatan senjata.”
“Itu satu-satunya jalan yang bisa dia tempuh saat ini,” saran Panetta. (*)