Amerika dan Iran Bakal Berunding di Pakistan Akhir Pekan Ini

750 x 100 AD PLACEMENT

NarayaPost – Setelah bertempur empat minggu, Amerika Serikat (AS) dan Iran bakal menggelar perundingan di Islamabad, Pakistan, akhir pekan ini.

Hal itu diungkapkan oleh Direktur Jenderal Badan Energi Atom Internasional (IAEA) Rafael Grossi, Rabu (25/3/2026).

Dalam wawancara dengan harian Italia Corriere della Sera, Grossi mengatakan pembicaraan tersebut akan mencakup isu yang lebih luas.

Topik yang dibahas antara lain rudal, milisi, serta jaminan keamanan bagi negara itu.

“Kali ini, pembicaraan juga akan mencakup soal rudal, milisi yang terkait dengan Republik Islam, dan jaminan keamanan bagi Iran,” kata Grossi.

Ia menyebut kemungkinan adanya solusi sementara yang bisa disepakati, meski tidak harus bersifat militer.

BACA JUGA: Iran Bantah Negosiasi Seperti Klaim Donald Trump

Menurut Grossi, ada rencana diplomatik alternatif yang memungkinkan dua pendekatan sekaligus.

Pertama, penghentian sementara pengayaan uranium karena kondisi politik, militer, dan kepercayaan yang belum memungkinkan.

Kedua, isu tersebut akan dikaji kembali dalam lima hingga 10 tahun mendatang.

Harus Hapus Niat Jahat

Iran menyatakan perundingan dengan AS hanya akan terjadi jika Teheran menyatakan kehendaknya, dan Washington sepenuhnya menghapus niat jahat untuk bertindak melawan rakyat Negeri Para Mullah itu.

“Perundingan hanya akan terjadi jika itu adalah kehendak kami, dan jika niat untuk bertindak melawan rakyat Iran sepenuhnya dihilangkan.”

“Hingga itu menjadi kehendak kami, tidak ada yang akan kembali normal.”

“Ini hanya akan terjadi ketika niat untuk bertindak melawan rakyat Iran sepenuhnya dihapus dari pikiran kotor kalian.”

“Kata pertama dan terakhir kami, sejak hari pertama, adalah kami tidak akan pernah bernegosiasi dengan pihak seperti kalian.”

“Tidak sekarang dan tidak akan pernah, kata juru bicara Markas Pusat Khatam Al-Anbiya militer Iran Ebrahim Zolfaghari, Rabu, dikutip kantor berita Tasnim.

Tak Percaya

Iran menyatakan tidak mempercayai AS, kepada sejumlah negara mediator yang mencoba memediasi, berdasarkan pengalaman sebelumnya.

Axios melaporkan, perundingan antara AS dan Iran telah dua kali gagal.

Pada Juni, Israel dengan dukungan Presiden AS Donald Trump menyerang Republik Islam itu menjelang putaran pembicaraan.

Sedangkan pada Februari, AS dan Israel melancarkan operasi setelah tercapai kesepakatan awal terkait isu nuklir.

“Kami tidak ingin tertipu lagi,” ucap salah satu sumber Axios.

Iran juga disebut telah menyampaikan kepada otoritas Pakistan, Mesir, dan Turki, peningkatan kehadiran militer AS di kawasan semakin memperkuat kekhawatiran Teheran, tawaran perundingan damai dari Trump mungkin hanya strategi.

BACA JUGA: Trump Pertimbangkan Kurangi Serangan Terhadap Iran

Pada Selasa, Trump mengatakan telah menunjuk Menteri Luar Negeri Marco Rubio, Wakil Presiden JD Vance, utusan khusus Steve Witkoff, serta menantunya Jared Kushner sebagai tim negosiasi AS dengan Iran.

Ia menambahkan, proses negosiasi kembali dilanjutkan pada Minggu, dan Teheran menunjukkan keseriusan untuk mencari penyelesaian konflik.

Negara di Timur Tengah itu diduga meminta kepada AS agar dapat melakukan pembicaraan dengan Wakil Presiden JD Vance dan bukan dengan utusan khusus Steve Witkoff maupun menantu Donald Trump, Jared Kushner.

Iran tidak mempercayai Witkoff dan Kushner terkait pembicaraan sebelumnya, sebelum terjadi serangan AS-Israel terhadap Iran.

Sementara JD Vance, dianggap negara kaya minyak itu sebagai pihak yang lebih mendukung tercapainya gencatan senjata.

Ajak Bangun Aliansi Tanpa AS-Israel

Iran menyerukan negara-negara tetangga di kawasan Timur Tengah membangun sebuah aliansi keamanan dan militer, tanpa keterlibatan AS dan Israel, dengan Alquran sebagai dasar.

“Waktunya telah tiba untuk mendirikan sebuah aliansi militer tanpa kehadiran Amerika Serikat dan Israel,” kata Ebrahim Zolfaghari, juru bicara Markas Besar Khatam Al Anbiya Angkatan Bersenjata Iran, dalam rekaman video yang ditujukan bagi dunia Arab dan Islam, Rabu.

Ia menyebut agresi AS dan Israel terhadap negaranya mencerminkan sebuah fase baru, dan Iran kini ada di garis depan membela negara-negara Islam.

Zolfaghari menekankan pentingnya tidak tergantung pada kekuatan asing dan kembali ke ajaran Alquran.

Menurut dia, negara-negara di kawasan tidak seharusnya memerlukan negara nun jauh di seberang benua, sebagai penjamin keamanan mereka.

“Kita harus bersatu untuk menjamin keamanan kita, dan bergerak menuju suatu kesepakatan keamanan bersama yang menjadikan Islam dan Alquran sebagai acuan, inti, dan landasan ajek,” tuturnya. (*)

750 x 100 AD PLACEMENT

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like