NarayaPost – Amerika Serikat (AS) disebut bakal menginvasi salah satu pulau Iran dalam waktu dekat, dengan bantuan negara di kawasan.
Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf mengungkapkan hal tersebu, menyusul kabar AS bakal mengerahkan ribuan pasukan tambahan ke Timur Tengah.
“Berdasarkan sejumlah laporan intelijen, musuh-musuh Iran sedang bersiap untuk menduduki salah satu pulau Iran dengan dukungan dari salah satu negara di kawasan.”
“Pasukan kami memantau seluruh pergerakan musuh, dan jika mereka mengambil langkah apa pun, seluruh infrastruktur vital negara regional tersebut akan menjadi sasaran serangan tanpa henti dan tanpa jeda.”
“Kami memantau secara ketat semua pergerakan AS di kawasan, terutama penempatan pasukan.”
“Apa yang telah dirusak para jenderal, tidak bisa diperbaiki oleh para tentara; malah, mereka akan menjadi korban delusi (Perdana Menteri Israel Benjamin) Netanyahu.”
BACA JUGA: Trump Siap Kerahkan 4.000 Pasukan Darat AS untuk Invasi Iran
“Jangan uji tekad kami untuk membela tanah kami,” tulis Ghalibaf di X, yang dibuat dalam bahasa Persia dan Arab pada Rabu (25/3/2026).
Ghalibaf menjadi sorotan, lantaran disebut-sebut menjadi pilihan Presiden AS Donald Trump untuk menjadi pemimpin Iran di masa depan.
Trump dilaporkan berencana mengerahkan ribuan pasukan lintas udara dan tambahan marinir ke kawasan Teluk, di tengah spekulasi ia dapat memerintahkan invasi darat untuk merebut aset minyak Iran di kawasan tersebut, atau mengamankan Selat Hormuz.
Salah satu target potensial adalah Pulau Kharg, yang menangani hampir seluruh ekspor minyak mentah Iran.
Trump sebelumnya menyebut pulau itu sebagai “pulau minyak kecil yang berdiri di sana, sangat tidak terlindungi.”
Sebelumnya pada hari yang sama, seorang pejabat militer Iran yang tidak disebutkan namanya mengatakan kepada media lokal, Teheran akan menargetkan jalur pelayaran di Laut Merah jika terjadi invasi darat, yang berpotensi memperluas perang secara drastis dan mengganggu perdagangan global lebih luas lagi.
Iran diketahui mempersenjatai dan mendukung kelompok pemberontak Houthi di Yaman, yang sebelumnya telah menargetkan kapal-kapal yang melintasi Selat Bab el-Mandeb, jalur penting menuju Terusan Suez.
“Jika musuh mencoba melakukan operasi darat di pulau-pulau Iran atau di wilayah mana pun di negara kami, atau jika mereka berupaya membebani Iran melalui manuver angkatan laut di Teluk Persia dan Laut Oman, kami akan membuka front lain sebagai ‘kejutan.”
“Selat Bab el-Mandeb merupakan salah satu selat paling strategis di dunia, dan Iran memiliki kemauan serta kemampuan untuk menghadirkan ancaman yang sepenuhnya kredibel terhadapnya,” beber pejabat tersebut, seperti dikutip kantor berita Tasnim.
Lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz yang berada di lepas pantai Iran turun drastis akibat perang.
Eskalasi militer ini mengganggu sekitar 20 persen pasokan minyak global.
Harga minyak mentah pun melonjak hingga sekitar 100 dolar AS per barel, seiring dengan apa yang disebut International Energy Agency sebagai gangguan pasokan terbesar dalam sejarah pasar minyak global.
Kerahkan 3.000 Personel Terjun Payung
AS sebelumnya disebut bakal mengerahkan 3.000 personel terjun payung ke Timur Tengah.
Al Jazeera pada Selasa (24/3/2026) melaporkan, salah satu pejabat AS mengatakan, tiga batalion dari Divisi Lintas Udara ke-82, diperkirakan akan dikerahkan ke Timur Tengah.
Namun, dia menjelaskan sejauh ini belum ada perintah resmi terkait pengerahan itu.
Divisi Lintas Udara ke-82 mampu dikerahkan dalam waktu 18 jam setelah menerima perintah.
Dua sumber lain yang mengetahui informasi ini mengatakan, sekitar 1.000 tentara Divisi Lintas Udara ke-82 akan dikerahkan ke Timur Tengah dalam beberapa hari mendatang.
Kontingen tersebut mencakup Komandan Divisi Lintas Udara ke-82 Mayjen Brandon Tegtmeier, staf divisi, satu batalion Tim Tempur Brigade yang bertugas sebagai Pasukan Respons Cepat (IRF).
BACA JUGA: Iran Siap Permalukan Pasukan Darat Amerika Jika Menginvasi
IRF adalah brigade yang siap bergerak dengan pemberitahuan terbatas, bertindak sebagai pasukan respons cepat yang mampu dikerahkan dalam hitungan jam ketika dibutuhkan.
Pasukan Respons Cepat pernah dikerahkan saat operasi AS membunuh Komandan Pasukan Quds Mayor Jenderal Qasem Soleimani pada 2020.
Satu sumber mengatakan, unsur-unsur awal dari staf divisi dan batalion tersebut diperkirakan mulai dikerahkan dalam waktu sepekan.
Unsur-unsur lain dalam brigade juga diperkirakan dikerahkan di kemudian hari, meski jadwal bisa berubah.
Satu sumber mengatakan, Brigade tersebut akan menjadi unit siaga di Timur Tengah, dan siap dipanggil jika diperlukan. (*)