NarayaPost – Anggota DPR RI, Hetifah Sjaifudian, menyatakan dukungannya terhadap keputusan pemerintah yang membatalkan rencana penerapan sekolah daring sebagai langkah antisipasi krisis global. Ia menilai kebijakan tersebut tepat karena tetap menjaga kualitas pembelajaran sekaligus mempertimbangkan aspek efektivitas pendidikan di Indonesia.
“DPR RI mengapresiasi langkah Pemerintah yang menegaskan bahwa kebijakan efisiensi energi tidak akan mengganggu proses pembelajaran dan tetap mengedepankan tatap muka,” ujar Hetifah dalam keterangannya, dikutip Jumat (27/3).
Menurutnya, pembelajaran tatap muka masih menjadi metode paling ideal untuk diterapkan secara luas. Selain memberikan hasil belajar yang lebih optimal, interaksi langsung antara guru dan siswa dinilai memiliki peran penting dalam membangun pemahaman yang lebih mendalam.
BACA JUGA: Kabar Pasukan Darat Amerika Bakal Invasi Iran Semakin Santer
“Selain lebih efektif, pendekatan ini juga penting untuk menjaga kualitas interaksi, termasuk kegiatan praktikum yang tidak dapat tergantikan,” ucap Hetifah.
Ia menambahkan bahwa sistem zonasi pendidikan yang telah berjalan selama beberapa tahun terakhir turut mendukung efektivitas pembelajaran tatap muka. Dengan jarak sekolah yang relatif dekat dari tempat tinggal siswa, kebutuhan energi untuk transportasi pun tidak meningkat secara signifikan.
“Dengan sistem zonasi yang telah berjalan, mayoritas siswa bersekolah relatif dekat dari rumah, sehingga dampak terhadap konsumsi energi, khususnya dari transportasi, tidak signifikan,” tambahnya.
Lebih jauh, Hetifah juga menyoroti sejumlah tantangan yang kerap muncul dalam pelaksanaan pembelajaran daring. Ia mengingatkan bahwa pengalaman selama masa pandemi menunjukkan adanya risiko penurunan kualitas pembelajaran jika metode ini diterapkan secara luas tanpa kesiapan yang matang.
“Belajar dari rumah memiliki sejumlah tantangan yang perlu diwaspadai jika diterapkan secara luas, mulai dari risiko penurunan capaian belajar (learning loss), keterbatasan interaksi guru dan siswa, hingga potensi meningkatnya kesenjangan akses akibat perbedaan fasilitas dan pendampingan di rumah,” tutur Hetifah.
Tak hanya dari sisi akademik, ia juga menilai pembelajaran jarak jauh dapat berdampak pada perkembangan sosial dan emosional siswa. Minimnya interaksi langsung dinilai berpotensi menghambat pembentukan karakter serta kemampuan bersosialisasi anak.
“Selain itu, aspek sosial-emosional anak juga terdampak karena berkurangnya ruang interaksi dan pembentukan karakter,” tambahnya.
Meski demikian, Hetifah tidak menutup kemungkinan bahwa pembelajaran jarak jauh (PJJ) tetap memiliki peran penting dalam kondisi tertentu. Ia menilai fleksibilitas sistem pendidikan tetap diperlukan agar proses belajar mengajar dapat terus berlangsung di berbagai situasi.
“Seperti saat terjadi bencana alam, gangguan akses sementara, atau di wilayah terpencil dengan keterbatasan tenaga pendidik. Dalam situasi tersebut, PJJ menjadi solusi adaptif agar proses belajar tetap berlangsung,” jelasnya.
Dengan kata lain, PJJ sebaiknya diposisikan sebagai alternatif, bukan sebagai kebijakan utama yang diterapkan secara menyeluruh. Pendekatan ini dianggap lebih realistis dalam menjaga keseimbangan antara kualitas pendidikan dan kesiapan infrastruktur di berbagai daerah.
BACA JUGA: Iran Pilih Lanjutkan Perlawanan Ketimbang Negosiasi
Di sisi lain, Hetifah juga mengimbau pemerintah daerah agar tidak ragu untuk kembali mengoptimalkan pembelajaran tatap muka setelah libur Lebaran Idul Fitri 1447 Hijriah. Ia menekankan pentingnya momentum tersebut untuk meningkatkan kualitas pendidikan secara berkelanjutan.
“Sembari terus meningkatkan kualitas pembelajaran, memperkuat dukungan bagi guru, serta memastikan lingkungan belajar yang aman dan kondusif,” tandasnya.
Pernyataan ini sekaligus menegaskan bahwa keberhasilan sistem pendidikan tidak hanya ditentukan oleh metode pembelajaran, tetapi juga oleh dukungan ekosistem yang menyertainya, mulai dari kesiapan tenaga pendidik hingga lingkungan belajar yang mendukung perkembangan siswa secara menyeluruh.