Iran Bikin Amerika Rugi Rp49 Triliun dan Krisis Rudal

750 x 100 AD PLACEMENT

NarayaPost – Amerika Serikat (AS) diduga mengalami kerugian sekitar Rp49 triliun, selama empat pekan perang melawan Iran.

Elaine McCusker, bekas pejabat anggaran Kementerian Pertahanan AS yang kini bekerja di American Enterprise Institute, mengatakan kerugian itu berasal dari aset militer yang hancur atau rusak, imbas perlawanan Iran.

Media AS Wall Street Journal yang dikutip Anadolu Agency melaporkan, kerugian itu sebagian besar karena serangan rudal dan drone Iran.

Peralatan militer tersebut mencakup tiga jet tempur F-15E yang secara keliru ditembak jatuh pesawat Kuwait pada 1 Maret, dan jet siluman F-35 yang mendarat darurat pada 16 Maret setelah dilaporkan diserang Iran.

Juga, dua pesawat pengisian bahan bakar KC-135 yang tabrakan di Irak dan menewaskan enam awak.

Lalu, lima pesawat KC-135 lain yang rusak imbas serangan rudal Iran di Pangkalan Udara Pangeran Sultan di Arab Saudi.

BACA JUGA: Kecewa Tak Dibantu NATO Lawan Iran, Trump: Macan Kertas!

Kapal induk USS Gerald R Ford juga rusak setelah diserang Iran pada 12 Maret.

Kapal itu kini menjalani perbaikan di Teluk Souda, Yunani.

Pentagon berencana mengganti beberapa sistem yang rusak melalui usulan permintaan anggaran tambahan sebesar US$200 miliar.

Namun, Anadolu tak bisa memverifikasi secara independen kerugian yang dilaporkan.

Krisis Tomahawk

AS dilaporkan telah meluncurkan lebih dari 850 rudal jelajah Tomahawk, dalam empat minggu perang melawan Iran.

Tingginya intensitas penggunaan senjata presisi ini mulai memicu kekhawatiran di internal Pentagon, terkait ketersediaan stok senjata.

Mengutip laporan Washington Post, Jumat (27/3/2026), laju penggunaan rudal yang sangat cepat ini memicu diskusi internal mengenai cara mempercepat pengadaan stok tambahan.

Menanggapi kekhawatiran tersebut, Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt menegaskan, kekuatan militer AS tetap berada dalam kondisi prima.

“Militer AS memiliki lebih dari cukup amunisi dan stok senjata untuk mencapai target ‘Operasi Epic Fury’ yang dicanangkan Presiden Trump, bahkan lebih dari itu,” tegas Leavitt dalam pernyataannya kepada Reuters.

Trump, lanjutnya, tetap fokus memperkuat angkatan bersenjata, dan terus mendesak kontraktor pertahanan mempercepat produksi senjata buatan AS yang ia klaim sebagai yang terbaik di dunia.

Pentagon menyatakan mereka memiliki semua kebutuhan logistik militer yang diperlukan.

Departemen Perang memiliki segala sesuatu yang dibutuhkan untuk melaksanakan misi apa pun, di waktu dan tempat yang dipilih Presiden, dalam lini masa kapan pun,” ucap juru bicara utama Pentagon Sean Parnell.

Meskipun pejabat publik memberikan pernyataan yang menenangkan, para ahli menilai penggunaan hampir 900 rudal Tomahawk dalam waktu singkat merupakan beban logistik yang sangat besar.

Fokus utama kini beralih pada seberapa cepat industri pertahanan AS mampu menambal celah stok yang mulai menipis, akibat eskalasi di Timur Tengah.

Desak Kesepakatan Damai

Utusan Khusus Steve Witkoff pada Jumat (27/3/2026) mengungkapkan, AS akan menggelar pertemuan dengan Iran pekan ini.

“Kami memperkirakan akan ada pertemuan pekan ini, dan tentu berharap hal itu terwujud.”

“Kapal-kapal mulai melintas, ini merupakan tanda positif, dan saya rasa presiden menginginkan kesepakatan damai.”

“Inilah yang saya maksud dengan negosiasi, dan kami tidak akan berhenti sampai proses ini tuntas.”

“Kami juga telah mengajukan hal tersebut,” cetus Steve Witkoff di sebuah forum investasi di Miami.

Terpisah, Trump mengeklaim Iran ingin mengadakan pembicaraan.

BACA JUGA: Amerika Ancam Serang Iran Lebih Dahsyat Jika Tolak Kesepakatan

“Mereka dihancurkan. Mereka ingin bicara, dan kami juga menginginkannya, sekarang mereka ingin membuat kesepakatan,” klaimnya.

Menteri Luar Negeri Marco Rubio mengatakan Washington memperkirakan akan menyelesaikan kampanye militernya melawan Iran dalam hitungan pekan, bukan bulan, dan AS dapat mencapai tujuannya tanpa mengerahkan pasukan di lapangan.

Timur Tengah membara usai AS dan Israel menggempur Iran sejak 28 Februari.

Imbas serangan brutal itu, Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei serta pejabat pertahanan dan intelijen Iran gugur.

Operasi AS-Israel juga menyebabkan ribuan warga Iran kehilangan nyawa.

Di hari pertama serangan, Iran meluncurkan balasan ke Israel dan aset militer AS di negara-negara Teluk.

Mereka juga menutup jalur perdagangan minyak global Selat Hormuz untuk menekan kedua negara itu.

Hingga kini, pertempuran masih berlanjut.

AS mengeklaim Negeri Para Mullah itu bersedia negosiasi untuk gencatan senjata.

Namun, pemerintahan yang berbasis di Teheran menolak perundingan dan mengajukan syarat ketat untuk gencatan.

Syarat-syarat itu di antaranya penghentian serangan secara permanen ke Iran dan setop pembunuhan terhadap pejabat negara ini, menuntut jaminan tak ada perang lain, serta meminta AS mengganti rugi dan memberi kompensasi atas kerusakan yang dialami Iran. (*)

750 x 100 AD PLACEMENT

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like