NarayaPost – Presiden Jerman Frank-Walter Steinmeier menyatakan perang koalisi Amis (Amerika Serikat-Israel) melawan Iran, adalah kesalahan fatal yang melanggar hukum internasional.
“Kebijakan luar negeri kita tidak menjadi lebih meyakinkan hanya karena kita tidak menyebut pelanggaran hukum internasional sebagai pelanggaran hukum internasional.”
“Kita harus membahas hal ini terkait perang di Iran.”
“Karena, menurut pandangan saya, perang ini bertentangan dengan hukum internasional,” kata Steinmeier dalam pidatonya di Kementerian Luar Negeri Jerman, Selasa (24/3/2026).
Steinmeier mengatakan, masa jabatan kedua Presiden AS Donald Trump menandai keretakan hubungan luar negeri Jerman, yang sama mendalamnya dengan invasi Rusia ke Ukraina.
“Sama seperti saya percaya tidak akan ada jalan kembali dalam hubungan dengan Rusia sebelum 24 Februari 2022, demikian pula saya percaya tidak akan ada jalan kembali dalam hubungan transatlantik sebelum 20 Januari 2025,” tutur Steinmeier.
BACA JUGA: Kecewa Tak Dibantu NATO Lawan Iran, Trump: Macan Kertas!
Menurut Steinmeier Jerman harus menerapkan pelajaran yang dipelajarinya dalam melepaskan diri dari ketergantungan yang berlebihan pada Rusia, dan menerapkannya pada AS, khususnya di bidang pertahanan dan teknologi, yang diterjemahkan menjadi kekuatan.
Jerman telah menekankan pentingnya menciptakan alternatif untuk teknologi yang didominasi AS, seiring meningkatnya kekhawatiran atas akses AS.
Cina kembali menjadi mitra dagang utama Jerman dalam delapan bulan pertama tahun 2025, mengungguli AS karena tarif yang lebih tinggi membebani ekspor Jerman.
Perdagangan antara AS dan Jerman mencapai lebih dari €163 miliar selama periode tersebut.
Steinmeier mengatakan, perselisihan baru-baru ini antara Pentagon dan Anthropic mengenai pengamanan seputar artificial intelligence (AI) Anthropic dapat menjadi peringatan, atau bahkan peluang, bagi Eropa.
“Eropa sebagai pusat teknologi memiliki talenta, pasar, peluang, dan yang terpenting, standar etika.”
“Kita harus membangun di atas hal-hal tersebut,” ajaknya, seperti dikutip dari Reuters.
Goyahkan Timur Tengah
Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez mengatakan perang koalisi Amis melawan Iran, bakal memiliki konsekuensi yang jauh lebih buruk, daripada invasi pimpinan AS ke Irak pada 2003 silam.
Sanchez juga menegaskan kembali penolakan Madrid untuk ikut serta dalam perang melawan Teheran.
Berbicara di majelis rendah parlemen pada Rabu lalu, Sanchez menggambarkan konflik tersebut sebagai bencana mutlak.
“Konflik ini telah merusak hukum internasional dan menggoyahkan Timur Tengah,” katanya.
Perang ini, lanjutnya, memicu kembali ketegangan di Irak dan Lebanon, meningkatkan ketidakamanan di negara-negara Teluk, dan memperburuk tantangan energi global.
“Kita tidak menghadapi skenario yang sama seperti dalam perang ilegal di Irak.”
BACA JUGA: BoP Ingin Lucuti Hamas, Prabowo Masih Ingin Bertahan?
“Kita menghadapi sesuatu yang jauh lebih buruk, dengan dampak yang jauh lebih luas dan lebih dalam,” imbuhnya, dikutip dari Russia Today.
Sanchez mengkritik pemerintahan Spanyol tahun 2003 yang dipimpin Perdana Menteri Jose Maria Aznar, karena mendukung invasi pimpinan AS ke Irak, dan kemudian mengerahkan pasukan Spanyol ke negara tersebut.
“Kami menolak untuk mengulangi kesalahan masa lalu; kami menolak untuk menyamar sebagai demokrasi, yang sebenarnya adalah keserakahan dan perhitungan politik.”
“Singkatnya, kami menolak perang,” tegas Sanchez.
Iran, kata Sanchez, lebih besar dari gabungan Jerman, Prancis, dan Italia dalam hal wilayah, serta memiliki kemampuan militer yang signifikan, termasuk rudal balistik jarak jauh.
Dia mengatakan, Teheran telah menghabiskan puluhan tahun membangun pertahanannya, merujuk pada pembentukan Republik Islam setelah revolusi 1979.
“Perang ini adalah kesalahan besar yang biayanya tidak kami terima dan tidak bersedia kami bayar,” imbuhnya.
Dia mengungkapkan, pemerintahnya pekan lalu menyetujui paket €5 miliar untuk melindungi rumah tangga Spanyol.
Spanyol termasuk negara Uni Eropa dan anggota NATO yang paling vokal menentang perang Iran.
Madrid telah menarik duta besarnya dari Israel dan menurunkan hubungan diplomatik.
Sikap ini membuat hubungan Madrid dengan Washington renggang.
Spanyol menolak mengizinkan AS menggunakan pangkalan militer bersama untuk operasi yang terkait dengan konflik tersebut, dengan alasan kedaulatan.
Hal itu memicu kritik dari Donald Trump, yang mengancam akan mengambil tindakan perdagangan dan mengutip kegagalan Madrid untuk memenuhi target pengeluaran pertahanan NATO sebesar 5%.
Namun, Menteri Luar Negeri Spanyol Jose Manuel Albares mengatakan awal bulan ini, hubungan bilateral dengan AS tetap normal. (*)