NarayaPost – Lebih dari 500 personel militer Amerika Serikat (AS) menjadi korban serangan balasan Iran ke Dubai, Uni Emirat Arab, Sabtu (28/3/2026).
Juru bicara Markas Besar Komando Pusat Iran Khatam Al Anbiya mengeklaim menghantam dua tempat persembunyian tentara AS, salah satunya di Dubai, yang menampung militer Negeri Paman Sam.
“Dalam beberapa jam terakhir, dua tempat persembunyian mereka berhasil diidentifikasi, dengan lebih dari 400 orang di lokasi pertama, dan lebih dari 100 orang di lokasi kedua di Dubai.”
“Keduanya menjadi sasaran rudal presisi dan drone dari Angkatan Dirgantara dan Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam, yang mengakibatkan korban sangat besar di pihak mereka,” ungkap juru bicara tersebut, dikutip kantor berita Iran, Tasnim.
Juru bicara itu memaparkan, pihaknya sudah berulang kali mewanti-wanti kepada negara di Timur Tengah untuk segera mengusir tentara AS di negaranya, dan berhenti ikut campur jika tak ingin terseret perang.
“(Donald] Trump dan para komandan militer Amerika harus sepenuhnya memahami kawasan ini akan berubah menjadi kuburan bagi tentara Amerika.”
BACA JUGA: Iran Bikin Amerika Rugi Rp49 Triliun dan Krisis Rudal
“Dan mereka tidak akan punya pilihan selain menyerah pada kehendak ilahi rakyat yang heroik dan para pejuang Islam yang berani,” tegasnya.
Menurut juru bicara tersebut, ambulans selama berjam-jam mengevakuasi para komandan dan tentara Amerika yang tewas maupun terluka.
Dalam pernyataan terpisah, Presiden Iran Masoud Pezeshkian kembali mendesak negara-negara tetangga agar tidak membiarkan ‘musuh-musuh’ Teheran menjalankan perang dari wilayah mereka.
Ini merupakan peringatan berulang kepada negara Arab yang menampung pangkalan militer AS di wilayahnya.
“Kami telah berkali-kali mengatakan Iran tidak melakukan serangan preemptif, tetapi kami akan membalas dengan keras jika infrastruktur atau pusat ekonomi kami diserang.”
“Kepada negara-negara kawasan: Jika Anda menginginkan pembangunan dan keamanan, jangan biarkan musuh kami menjalankan perang dari wilayah Anda,” tulisnya di X, Sabtu.
Pernyataan Pezeshkian ini merupakan seruan terbaru dari Iran kepada negara-negara tetangga, agar tidak mengizinkan wilayah mereka digunakan untuk operasi militer melawan Iran.
Pada Rabu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi juga mendesak negara-negara di sekitar Iran untuk menjaga jarak dari AS.
Hancurkan Gudang Anti Drone Buatan Ukraina
Iran juga mengeklaim menghancurkan gudang penyimpanan sistem anti-drone buatan Ukraina di Dubai, Sabtu.
Iran mengeklaim rangkaian serangan rudal mereka juga menargetkan persembunyian para komandan dan militer AS, sehingga kemungkinan banyak yang tewas.
Teheran sengaja menargetkan gudang sistem anti-drone Ukraina yang digunakan untuk membantu AS dan Israel melalui serangan hibrida, oleh Pasukan Luar Angkasa dan Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Iran (IRGC).
Jubir Khatam Al Anbia juga mencatat kemungkinan terdapat 21 warga Ukraina dalam serangan Iran ke gudang penyimpanan anti-drone tersebut.
Meski demikian, ia belum mendapatkan informasi yang jelas mengenai nasib para warga Ukraina tersebut, dikutip dari kantor berita Iran Tasnim News Agency.
Ukraina membantah klaim Iran yang menyatakan menargetkan gudang sistem anti-drone di Dubai, UEA.
BACA JUGA: Bertempur di Banyak Front, IDF Terancam Kolaps
Dikutip dari AFP, juru bicara Kementerian Luar Negeri Ukraina Georgiy Tykhy menegaskan “ini adalah kebohongan. Kami secara resmi membantah informasi ini.”
Tykhy menambahkan, Teheran “sering melakukan operasi disinformasi semacam itu.”
IRGC juga sebelumnya mengeklaim berhasil menghancurkan enam kapal taktis AS di pelabuhan Kuwait dan UEA, menewaskan sejumlah tentara AS.
Kantor Humas IRGC mengumumkan serangan-serangan itu merupakan bagian dari Operasi True Promise 4 gelombang ke-84.
Serangan-serangan tersebut diklaim tepat sasaran menghantam “para tentara Amerika yang frustrasi dan peralatan taktis mereka,” dikutip dari kantor berita Iran Tasnim News Agency.
“Dalam operasi ini, yang dilakukan menggunakan rudal balistik dan rudal jelajah Qadr 380, 6 kapal pendaratan utilitas (LCU) Amerika dihantam di pelabuhan Al-Shuwaikh,” demikian pernyataan IRGC.
IRGC menambahkan, berdasarkan laporan lapangan, tiga dari kapal taktis ini tenggelam setelah dihantam rudal dan sisanya terbakar. (*)