NarayaPost – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) melaporkan perkembangan positif terkait penanganan kasus Campak di Indonesia. Hingga minggu ke-12 epidemiologi tahun 2026 atau akhir Maret, jumlah kasus tercatat mengalami penurunan signifikan hingga sekitar 93 persen dibandingkan awal tahun. Penurunan ini menjadi indikasi bahwa berbagai upaya pengendalian yang dilakukan pemerintah mulai menunjukkan hasil.
Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kemenkes, Andi Saguni, menjelaskan bahwa lonjakan kasus sempat terjadi pada awal tahun 2026. Namun, tren tersebut berangsur menurun secara konsisten dalam beberapa pekan terakhir.
“Jadi bisa kita lihat di sini pada minggu ke-12 epidemiologi ya itu kasusnya menurun menjadi 146 kasus dibandingkan dengan minggu 11 ya minggu 11 (ada) 368 kasus dan kalau kita lihat pada minggu pertama tahun 2026 jumlah kasusnya itu 2.220,” ujar Andi dalam konferensi pers, Senin (30/3/2026).
BACA JUGA: Kecaman Keras RI soal Tewasnya Pasukan Perdamaian di Lebanon
Ia menegaskan bahwa jika dibandingkan antara minggu pertama dan minggu ke-12, penurunan kasus tergolong sangat drastis.
“Jadi ketika kita membandingkan dari minggu pertama sampai dengan minggu ke-12 bisa kita lihat di sini terjadi penurunan kurang lebih 93 persen ya,” katanya.
Meski demikian, Kemenkes mencatat setidaknya terdapat 14 provinsi yang sebelumnya memiliki angka kasus cukup tinggi pada periode 2025 hingga awal 2026. Beberapa di antaranya adalah Sumatera Utara, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, dan Jawa Timur, serta beberapa wilayah lain seperti Sumatera Barat.
Namun, tren di sejumlah provinsi tersebut kini menunjukkan perbaikan signifikan. Andi menyebut beberapa daerah bahkan telah mencatat nol kasus pada minggu ke-12.
“Sumatera Utara pada yang di ujung itu Bapak Ibu kalau kita lihat ya itu ada memang peningkatan kasus ya kemudian sampai dengan minggu ke-12 itu sudah menurun bahkan kasusnya nol,” ujarnya.
Penurunan juga terlihat di provinsi lain yang sebelumnya sempat mengalami lonjakan kasus cukup tinggi, termasuk Banten dan Jawa Barat.
“Kemudian Jawa Barat ya sempat tinggi di akhir tahun maupun di awal tahun naik banget ini Jawa Barat tetapi trennya sekarang sampai minggu ke-12 sudah menunjukkan penurunan,” kata Andi.
Selain itu, tren serupa juga terjadi di berbagai wilayah lain seperti Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat, hingga Jambi. Meskipun angka kasus secara nasional menunjukkan penurunan, Kemenkes menegaskan bahwa pengawasan tetap dilakukan secara ketat, terutama di wilayah dengan riwayat kasus tinggi.
“Ya sekali lagi kami sampaikan bahwa tetap kami lakukan ya, pemantauan di Provinsi Jawa Barat ya, surveillance ketat, sekalipun angkanya sudah menurun dan juga kepada provinsi-provinsi dengan kasus yang tinggi ya,” ujarnya.
Di sisi lain, Kemenkes juga mengeluarkan langkah tambahan berupa Surat Edaran Nomor HK.02.02/C/1602/2026 tentang kewaspadaan terhadap campak bagi tenaga medis dan tenaga kesehatan. Kebijakan ini diterbitkan menyusul meningkatnya kasus sebelumnya serta munculnya Kejadian Luar Biasa (KLB) di sejumlah daerah.
Langkah tersebut juga berkaitan dengan kasus meninggalnya seorang dokter berusia 25 tahun di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, yang diduga akibat campak. Dokter tersebut diketahui bertugas di instalasi gawat darurat rumah sakit umum daerah setempat.
“Beliau adalah dokter IGD rumah sakit umum daerah Pagelaran ya kita bisa lihat di sini ya sempat berdinas 2 hari berturut-turut pada tanggal 15, 16,” kata Andi.
Kondisinya kemudian memburuk hingga akhirnya meninggal dunia.
“Dan pukul 11:30 kasus dinyatakan meninggal dunia dengan diagnosis akhir campak dengan gangguan jantung dan otak ya,” ucapnya.
BACA JUGA: Menkomdigi Panggil Meta-Google Usai Diduga Tak Patuh PP Tunas
Menindaklanjuti kejadian tersebut, Kemenkes bersama dinas kesehatan daerah langsung melakukan investigasi epidemiologi. Pemeriksaan laboratorium juga dilakukan untuk memastikan penyebab infeksi.
“Dan diambil spesimen serum ya dan dibawa ke laboratorium Bio Farma dan pada tanggal 28 hasil pemeriksaan spesimen laboratorium Biofarma positif campak,” ujar Andi.
Ia menegaskan bahwa selain memperkuat surveilans dan vaksinasi, pemerintah juga terus meningkatkan perlindungan bagi tenaga kesehatan. Upaya ini diharapkan mampu mencegah penularan lebih lanjut sekaligus menjaga keselamatan tenaga medis sebagai garda terdepan dalam penanganan penyakit menular.