Studi Ungkap Lobster Mampu Merasakan Nyeri, Ilmuwan Serukan Larangan Memasak dalam Keadaan Hidup

Temuan studi menyebut lobster bila dimasak hidup-hidup, ternyata lobster bisa merasakan sakit.

NarayaPost – Studi terbaru mengenai lobster Norwegia kembali memperkuat dugaan lama di kalangan ilmuwan bahwa hewan krustasea memiliki kemampuan untuk merasakan sakit. Temuan ini bukan hanya menambah bukti ilmiah, tetapi juga memicu perdebatan etis yang semakin luas tentang bagaimana manusia memperlakukan hewan laut tersebut. Bahkan, isu ini pernah diangkat dalam esai terkenal “Consider the Lobster” karya David Foster Wallace, yang mempertanyakan praktik memasak lobster dalam keadaan hidup.

Penelitian yang dipublikasikan pada 13 April 2026 di jurnal Scientific Reports mengungkap bahwa dua jenis obat pereda nyeri yang umum digunakan manusia, yakni aspirin dan lidokain, mampu secara signifikan menurunkan respons melarikan diri pada lobster Norwegia (Nephrops norvegicus) saat diberikan rangsangan berupa kejutan listrik. Respons melarikan diri ini biasanya ditunjukkan melalui gerakan membalikkan ekor atau tail flip, yang selama ini dianggap sebagai refleks sederhana.

Respons Lobster Dimasak Hidup Kemungkinan Besar Reaksi Terhadap Rasa Sakit

Namun, hasil penelitian menunjukkan bahwa respons tersebut kemungkinan besar merupakan reaksi terhadap rasa sakit, bukan sekadar respons terhadap stres atau rangsangan mekanis. Obat pereda nyeri yang diberikan tampak menekan persepsi rasa sakit pada lobster, sehingga frekuensi gerakan melarikan diri menurun drastis. Hal ini menjadi indikator penting bahwa sistem biologis lobster memiliki kesamaan tertentu dengan manusia dalam merespons rasa sakit.

BACA JUGA: Ikan Sapu Sapu Perlu Dimusnahkan? Ini Alasannya

Lynne Sneddon dari University of Gothenburg menyatakan bahwa efektivitas obat pereda nyeri manusia pada lobster menunjukkan adanya kemiripan dalam cara kerja sistem saraf kedua spesies. Ia menekankan bahwa temuan ini seharusnya mendorong manusia untuk lebih memperhatikan cara memperlakukan dan membunuh krustasea, sebagaimana perhatian yang diberikan pada hewan ternak seperti ayam dan sapi.

Dalam eksperimen tersebut, sebanyak 105 lobster dibagi ke dalam beberapa kelompok. Sebagian tidak diberi perlakuan sebagai kelompok kontrol, sementara kelompok lain menerima kejutan listrik dengan atau tanpa pemberian obat pereda nyeri. Lidokain diberikan melalui air dalam tangki, sedangkan aspirin disuntikkan langsung ke tubuh lobster. Ketika diberi kejutan listrik selama 10 detik, lobster umumnya menunjukkan respons melarikan diri yang khas.

Ada Kelompok yang Telah Diberi Obat Pereda Nyeri

Namun, pada kelompok yang telah diberi obat pereda nyeri, respons tersebut jauh berkurang. Hanya tujuh dari 13 lobster yang diberi lidokain dan tiga dari 13 yang diberi aspirin menunjukkan gerakan membalikkan ekor. Angka ini jauh lebih rendah dibandingkan kelompok yang tidak menerima perlakuan. Para peneliti menilai bahwa jika respons tersebut semata-mata disebabkan oleh kontraksi otot akibat listrik, maka obat pereda nyeri tidak akan memberikan pengaruh signifikan.

Temuan ini mengarah pada adanya proses neurologis yang dikenal sebagai nociception, yaitu mekanisme ketika tubuh mendeteksi rangsangan berbahaya dan mengirimkan sinyal ke otak yang kemudian diinterpretasikan sebagai pengalaman tidak menyenangkan atau rasa sakit. Dengan kata lain, lobster tidak hanya bereaksi secara refleks, tetapi kemungkinan juga mengalami sensasi negatif yang lebih kompleks.

BACA JUGA: Kemlu Iran Tegaskan Tak Ada Penyerahan Uranium ke AS, Bantah Klaim Donald Trump

Penelitian ini menambah daftar bukti bahwa hewan tanpa tulang belakang lainnya, seperti kepiting dan gurita, juga memiliki kemampuan merasakan sakit. Studi sebelumnya menunjukkan bahwa kepiting pertapa akan meninggalkan cangkangnya setelah terkena kejutan listrik, sementara gurita mampu menghindari lokasi yang diasosiasikan dengan rasa sakit dan memilih tempat yang memberikan kenyamanan.

Seiring berkembangnya bukti ilmiah, sejumlah negara mulai mengubah kebijakan mereka. Norwegia, Selandia Baru, Austria, dan beberapa wilayah di Australia telah melarang praktik merebus krustasea hidup-hidup. Di Inggris, regulasi serupa sedang dalam tahap pembahasan, sementara undang-undang kesejahteraan hewan tahun 2022 telah mengakui lobster, kepiting, dan gurita sebagai makhluk yang mampu merasakan sakit.

Di sisi lain, industri mulai mencari alternatif yang lebih manusiawi, seperti metode penyetruman listrik (electrical stunning) untuk membuat hewan tidak sadar sebelum dimasak. Dengan semakin kuatnya bukti ilmiah, tekanan terhadap reformasi dalam perlakuan terhadap hewan laut ini diperkirakan akan terus meningkat di masa mendatang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like