Badan Pusat Statistik Waspadai Dampak El Nino, Tekankan Potensi Kenaikan Inflasi Pangan

BPS (Badan Pusat Statistika).

NarayaPost – Badan Pusat Statistik (BPS) mengingatkan bahwa potensi terjadinya fenomena El Nino ekstrem, yang kerap disebut sebagai El Nino “Godzilla”, dapat memberikan dampak terhadap inflasi ke depan. Fenomena iklim ini diperkirakan mulai terasa sejak April dan berisiko memengaruhi sektor pertanian, khususnya dalam hal produksi dan produktivitas komoditas pangan.

Direktur Statistik Harga BPS, Sarpono, menjelaskan bahwa perubahan pola cuaca akibat El Nino dapat menurunkan produktivitas lahan pertanian. Penurunan ini pada akhirnya berpotensi mengurangi pasokan bahan pangan di pasar, terutama komoditas yang termasuk dalam kelompok volatile food atau pangan yang harganya mudah berfluktuasi.

Badan Pusat Statistik Sebut Kondisi Tersebut Perlu Diantisipasi

Menurut Sarpono, kondisi tersebut perlu diantisipasi dengan langkah-langkah kebijakan yang tepat. Ia menilai bahwa stabilisasi harga menjadi kunci penting untuk menjaga daya beli masyarakat, terutama jika terjadi gangguan pasokan. Salah satu langkah yang dapat dipertimbangkan adalah pengendalian distribusi hingga kebijakan impor guna menutup kekurangan pasokan di dalam negeri.

BACA JUGA: Pimpinan DPR Minta Pembahasan UU Pemilu Tidak Terburu-buru, Parpol Diminta Lakukan Simulasi

“Sehingga produktivitas misalnya kebutuhan pokok terutama biasanya terkait dengan kondisi volatile food, yang mengenai komponen itu mungkin harus ada langkah yang diambil untuk stabilisasi harga melalui impor dan sebagainya,” ujarnya dalam Workshop Wartawan di kantor BPS, Jakarta, Selasa (21/4).

Meski demikian, Sarpono menegaskan bahwa besaran dampak El Nino terhadap inflasi belum dapat dihitung secara pasti pada saat ini. Ia menyebutkan bahwa berbagai variabel masih harus diperhatikan, termasuk tingkat keparahan fenomena tersebut serta respons kebijakan yang akan diambil pemerintah dalam waktu dekat.

“Jadi ya terkait dengan kondisi tertentu yang terkait inflasi ini bisa jadi akan berpengaruh, tapi sejauh mana dampaknya itu belum diukur untuk penyesuaiannya,” tambahnya.

Sektor Pertanian Miliki Peran Strategis

Peringatan dari BPS ini menjadi penting mengingat sektor pertanian memiliki peran strategis dalam menjaga stabilitas harga pangan. Gangguan pada produksi dapat langsung berdampak pada kenaikan harga di tingkat konsumen, yang pada akhirnya mendorong inflasi secara keseluruhan. Oleh karena itu, koordinasi antarinstansi dinilai krusial untuk meminimalkan dampak yang mungkin terjadi.

Di sisi lain, pemerintah melalui Kementerian Pertanian telah menyiapkan sejumlah langkah antisipatif. Amran Sulaiman sebelumnya menyampaikan bahwa estimasi dampak El Nino ekstrem diperkirakan berlangsung selama enam bulan. Dalam periode tersebut, pemerintah memastikan bahwa cadangan pangan, khususnya beras, masih berada pada level yang aman.

“Estimasi El Nino itu hanya 6 bulan, sedangkan cadangan kita 11 bulan, artinya lebih dari cukup,” ujar Amran. Pernyataan ini memberikan sinyal optimisme bahwa ketahanan pangan nasional masih dapat terjaga meskipun menghadapi tekanan iklim.

BACA JUGA: Pengusaha Tanggapi Kebijakan Pembatasan Kenaikan Harga Plastik Maksimal 30%

Kementerian Pertanian Mulai Salurkan Benih Padi

Selain menjaga cadangan, Kementerian Pertanian juga mulai menyalurkan bantuan benih padi yang tahan terhadap kondisi kering. Program ini ditujukan untuk membantu petani tetap dapat berproduksi di tengah keterbatasan air, sekaligus meningkatkan indeks pertanaman dari satu kali menjadi dua kali dalam setahun.

Langkah tersebut diharapkan dapat mengurangi potensi penurunan produksi akibat kekeringan, sehingga pasokan pangan tetap terjaga. Dengan demikian, tekanan terhadap harga pangan dapat diminimalkan dan inflasi tetap berada dalam rentang yang terkendali.

Secara keseluruhan, potensi dampak El Nino terhadap inflasi memang menjadi perhatian serius. Namun, dengan kombinasi antara kesiapan cadangan pangan, intervensi kebijakan, serta adaptasi di sektor pertanian, pemerintah optimistis risiko tersebut dapat dikelola dengan baik. Koordinasi yang solid antara lembaga statistik, kementerian teknis, dan pelaku usaha akan menjadi faktor penentu dalam menjaga stabilitas ekonomi di tengah tantangan perubahan iklim.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like