Guru Besar IPB Ciptakan Mi Non-Gluten dari Talas Beneng

Inovasi baru mi non-gluten yang dikembangkan oleh Guru Besar IPB.
750 x 100 AD PLACEMENT

NarayaPost – Mi telah lama menjadi salah satu makanan favorit masyarakat Indonesia. Dari anak-anak hingga orang dewasa, mi digemari karena rasanya yang lezat, praktis, dan mudah diolah dalam berbagai variasi menu. Namun, di balik popularitas tersebut, sebagian besar mi yang beredar di pasaran masih menggunakan bahan dasar tepung terigu yang belum tentu memiliki kandungan gizi seimbang, terutama dari sisi serat dan indeks glikemik. Inovasi lalu datang dari Guru Besar IPB yang mengembangkan mi non-gluten dinamai Mi Taroben.

Kondisi ini mendorong munculnya kebutuhan akan alternatif mi yang lebih sehat. Seiring meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pola makan bergizi, inovasi pangan berbasis bahan lokal mulai banyak dikembangkan. Salah satu terobosan menarik datang dari IPB University melalui inovasi mi non-gluten bernama Mi Taroben yang dikembangkan oleh Ahmad Sulaiman.

Guru Besar IPB Terinovasi dari Dorongan Pemerintah

Menurut Ahmad, inovasi ini tidak lepas dari dorongan pemerintah untuk memperkuat diversifikasi pangan nasional. Ia menjelaskan bahwa meskipun konsumsi beras mulai menurun, konsumsi mi berbahan terigu justru terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir.

BACA JUGA: Gus Ipul Sebut WFH Tak Boleh Ganggu Pelayanan

“Upaya pemerintah untuk meningkatkan diversifikasi pangan menjadi salah satu latar belakang inovasi ini. Konsumsi beras memang mulai menurun, tetapi konsumsi mi berbahan terigu justru meningkat,” ujarnya, seperti dikutip dari laman resmi IPB University, Rabu (1/4).

Ahmad juga menyoroti persoalan utama di balik tingginya konsumsi mi, yakni ketergantungan terhadap tepung terigu impor. Selama ini, kebutuhan terigu nasional sepenuhnya dipenuhi dari luar negeri, sehingga berpotensi menjadi ancaman bagi ketahanan pangan jika terjadi gangguan pasokan global.

“Ketergantungan yang tinggi terhadap terigu impor tentu dapat mengancam ketahanan pangan nasional. Padahal Indonesia memiliki banyak sumber pangan lokal yang potensial,” jelasnya.

Kembangkan Mi Taroben Manfaatkan Talas Beneng

Berangkat dari permasalahan tersebut, Ahmad mengembangkan Mi Taroben dengan memanfaatkan talas beneng sebagai bahan baku utama. Talas beneng merupakan tanaman lokal yang berasal dari Pandeglang, Banten, yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal sebagai bahan pangan sehari-hari.

Selama ini, talas beneng lebih dikenal melalui pemanfaatan daunnya yang diekspor sebagai bahan baku alternatif tembakau. Padahal, umbinya memiliki kandungan nutrisi yang cukup tinggi dan berpotensi besar untuk diolah menjadi berbagai produk pangan.

“Selama ini talas beneng lebih banyak dimanfaatkan daunnya yang diekspor sebagai bahan baku tembakau alternatif. Padahal umbinya memiliki potensi besar sebagai sumber pangan,” kata Ahmad.

Kandungan Umbi Talas Beneng

Umbi talas beneng diketahui mengandung pati, tinggi serat, serta memiliki kandungan prebiotik yang baik untuk kesehatan pencernaan. Selain itu, bahan ini juga bebas gluten dan memiliki indeks glikemik rendah, sehingga lebih ramah bagi tubuh dibandingkan produk berbasis terigu.

“Keunggulan tersebut menjadikan talas beneng sangat potensial untuk diolah menjadi pangan fungsional, termasuk mi sehat,” tambahnya.

Dibandingkan mi konvensional, Mi Taroben menawarkan sejumlah keunggulan dari sisi kesehatan. Produk ini mengandung karbohidrat kompleks, kaya serat, serta mendukung kesehatan mikrobiota usus berkat kandungan prebiotiknya.

“Mi Taroben juga memiliki indeks glikemik rendah sehingga lebih aman untuk penderita diabetes maupun mereka yang ingin mengontrol berat badan,” ujarnya.

Proses Pengembangan Mi oleh Guru Besar IPB Penuh dengan Tantangan

Meski demikian, proses pengembangan mi ini tidak berjalan tanpa tantangan. Salah satu kesulitan utama adalah menciptakan tekstur mi yang tetap kenyal dan nyaman dikonsumsi tanpa menggunakan gluten, yang biasanya berperan penting dalam elastisitas adonan.

BACA JUGA: Masyarakat Diimbau Tak Berlebihan Beli BBM, Ini Alasannya

Melalui berbagai uji coba dan penyempurnaan formulasi, Ahmad dan tim akhirnya berhasil menghasilkan produk yang tidak hanya sehat, tetapi juga tetap memiliki kualitas rasa dan tekstur yang kompetitif.

Ke depan, Ahmad berharap pemanfaatan talas beneng dapat terus dikembangkan dan menginspirasi lahirnya inovasi pangan berbasis bahan lokal lainnya. Ia menilai, pengembangan produk seperti ini tidak hanya berdampak pada peningkatan kualitas gizi masyarakat, tetapi juga memperkuat ketahanan pangan nasional secara berkelanjutan.

“Inovasi pangan lokal seperti ini diharapkan tidak hanya meningkatkan kualitas gizi masyarakat, tetapi juga memperkuat ketahanan pangan nasional,” pungkasnya.

750 x 100 AD PLACEMENT

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like