NarayaPost

Bersama Kebenaran, Ada Cahaya

Home » Blog » India Tolak Dedolarisasi: BRICS Retak di Tengah Jalan?

India Tolak Dedolarisasi: BRICS Retak di Tengah Jalan?

Menteri Luar Negeri India Subrahmanyam Jaishankar dalam konferensi pers tentang dedolarisasi BRICS

NarayaPost India tolak upaya dedolarisasi yang diusulkan anggota BRICS lainnya. Sikap ini membuka potensi retaknya persatuan blok ekonomi negara berkembang tersebut.

Blok ekonomi BRICS kembali diguncang perbedaan pandangan strategis. Kali ini, India menyatakan penolakannya terhadap wacana dedolarisasi—upaya untuk mengurangi dominasi dolar AS dalam transaksi global. Sikap ini menuai sorotan karena bisa menjadi pemicu retaknya konsensus internal BRICS yang selama ini digadang sebagai tandingan tatanan ekonomi Barat.

Dalam pernyataannya, Menteri Luar Negeri India Subrahmanyam Jaishankar menegaskan bahwa negaranya “tidak pernah memiliki masalah dengan peran dolar AS sebagai mata uang global.” Ia bahkan menyebut dolar sebagai “sumber stabilitas ekonomi internasional”—pernyataan yang bertolak belakang dengan agenda beberapa negara BRICS lainnya, seperti China, Rusia, dan Brasil, yang gencar mendorong alternatif mata uang bersama.

“Saat ini dunia membutuhkan stabilitas, bukan ketidakpastian baru dengan menggantikan sistem keuangan yang sudah mapan,” ujar Jaishankar dalam wawancara resminya pekan ini.

Perpecahan Internal BRICS

BRICS—yang terdiri dari Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan—sedang berupaya merumuskan sistem pembayaran alternatif. Namun, perbedaan kepentingan nasional membuat inisiatif dedolarisasi berjalan lambat.

Presiden Brasil, Luiz Inácio Lula da Silva, adalah salah satu tokoh paling vokal yang mendorong penggantian dolar dalam transaksi global. Rusia, di tengah sanksi ekonomi akibat invasi ke Ukraina, juga mengusulkan platform pembayaran khusus berbasis mata uang anggota BRICS. Di sisi lain, Tiongkok mendorong penggunaan yuan melalui skema swap dan perjanjian bilateral.

Namun India mengambil jalan berbeda. PM Narendra Modi dilaporkan tidak bersedia menggunakan mata uang bersama dengan China. Menteri Perdagangan Piyush Goyal pun menegaskan India akan tetap menggunakan dolar untuk transaksi lintas batas, sambil mendorong internasionalisasi rupee secara terbatas.

Dedolarisasi: Antara Ambisi dan Realitas

Dedolarisasi memang menjadi narasi besar dalam retorika geopolitik pasca-krisis keuangan global. Namun, kenyataannya, dolar masih mendominasi lebih dari 80% perdagangan internasional, dan mata uang seperti yuan atau real belum memiliki infrastruktur keuangan global yang sepadan.

Menurut analis dari Cointribune, fenomena INdia tolak dedolarisasi ini mencerminkan pendekatan pragmatis: menjaga stabilitas domestik, mengamankan hubungan strategis dengan AS, dan mencegah dominasi China di dalam BRICS.

Apakah India Akan Keluar dari BRICS?

Pertanyaan ini mulai bergema. Meski belum ada sinyal resmi, ketidakharmonisan dalam isu strategis seperti dedolarisasi menjadi ujian bagi masa depan BRICS. Hubungan bilateral India-AS yang semakin erat, serta ketegangan tersembunyi antara India dan China, memperkuat spekulasi bahwa posisi India dalam BRICS bisa bergeser.

Namun bagi India, BRICS tetap penting sebagai wadah diplomasi multilateral dan kerja sama Selatan-Selatan. Dedolarisasi bukan akhir dari kebersamaan, tetapi ujian kedewasaan blok dalam menghadapi ketegangan geopolitik global yang terus memanas.

Baca Juga: Presiden Prabowo Bertemu PM Australia, Bahas Kerjasama Danantara & SWF Australia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *