Tak Selalu Berdampak Negatif, Gula Justru Berpotensi Membantu Mencegah Penuaan pada Perempuan

Ilustrasi Gula.
750 x 100 AD PLACEMENT

NarayaPost – Selama ini, gula kerap dihindari karena dianggap sebagai pemicu berbagai penyakit, mulai dari diabetes hingga gangguan metabolisme lainnya. Namun, pandangan tersebut tidak sepenuhnya benar. Ahli gizi Athena Connell mengungkapkan bahwa dalam jumlah yang tepat, gula justru memiliki peran penting dalam menjaga kesehatan tubuh, termasuk membantu mencegah penuaan pada perempuan.

Mengutip laporan dari Hindustan Times, Athena menyatakan bahwa stigma negatif terhadap gula sering kali terlalu berlebihan. Menurutnya, menghindari gula secara ekstrem justru bisa berdampak kurang baik, terutama bagi perempuan yang ingin menjaga keseimbangan tubuh, kesuburan, serta kesehatan kulit.

“Gula selalu digambarkan sebagai akar penyebab penyakit. Tetapi menurut saya, antigula adalah antikehidupan, terutama pada tubuh wanita, pada mereka yang ingin subur, tenang, sehat, dan cantik,” ujarnya.

BACA JUGA: Guru Besar IPB Ciptakan Mi Non-Gluten dari Talas Beneng

Gula Justru Jadi Tren yang Dibutuhkan Manusia

Melalui unggahan di akun Instagram pribadinya pada 21 Maret lalu, Athena menjelaskan bahwa banyak tren kesehatan dan perawatan kulit saat ini terlalu fokus pada pengurangan gula dan penambahan kolagen dalam diet. Padahal, menurutnya, pendekatan tersebut belum tentu memberikan hasil yang optimal secara alami.

Ia menekankan bahwa kolagen bukanlah zat yang bisa langsung memberikan manfaat hanya dengan dikonsumsi. Tubuh memerlukan proses kompleks untuk memproduksi kolagen secara alami, yang bergantung pada ketersediaan energi.

“Kolagen bukanlah sesuatu yang kamu ‘tambahkan’ dengan menambahkannya ke kopi. Ini adalah sesuatu yang dibutuhkan tubuh untuk terus mensintesisnya dari bahan baku. Untuk melakukan ini, tubuh membutuhkan ATP (energi),” jelasnya.

Gula Jadi Bahan Bakar Utama Hasilkan Energi

ATP atau adenosine triphosphate merupakan sumber energi utama bagi sel tubuh. Dalam hal ini, glukosa—yang berasal dari bahan tersebut menjadi bahan bakar utama untuk menghasilkan energi tersebut. Tanpa asupan glukosa yang cukup, tubuh akan kesulitan menjalankan berbagai fungsi penting, termasuk memproduksi dan mempertahankan kolagen yang berperan dalam menjaga elastisitas kulit.

Athena juga menjelaskan bahwa kekurangan gula dapat memengaruhi kondisi mental dan emosional perempuan. Otak membutuhkan glukosa sebagai sumber energi utama. Ketika kadar gula rendah, seseorang bisa merasa lelah, mudah tersinggung, hingga sulit berkonsentrasi.

Selain itu, gula juga berperan dalam mendukung metabolisme tubuh secara keseluruhan. Energi yang dihasilkan dari glukosa membantu berbagai proses biologis, termasuk regenerasi sel dan pemeliharaan jaringan kulit.

Lebih jauh, Athena menyebut bahwa gula dapat menjadi sinyal bagi tubuh bahwa kondisi sedang aman dan rileks. Dalam kondisi ini, tubuh akan lebih optimal dalam membangun jaringan, memperbaiki sel, serta memproduksi energi secara efisien.

Sebaliknya, ketika tubuh kekurangan glukosa, mekanisme yang terjadi justru berlawanan. Tubuh akan meningkatkan produksi hormon stres seperti kortisol dan adrenalin untuk mempertahankan pasokan energi. Kondisi ini, jika berlangsung dalam jangka panjang, dapat mengganggu proses regenerasi dan mempercepat penuaan.

“Tanpa gula, tubuh tidak dapat menggunakan atau mempertahankan kolagen. Diet rendah gula dalam jangka waktu lama menjadi katabolik, yang berarti tubuh memecah jaringannya sendiri untuk bahan bakar,” ungkapnya.

Jaringan Tubuh Ikut Terurai Bila dalam Kondisi Kekurangan Energi

Ketika tubuh berada dalam kondisi kekurangan energi, jaringan seperti kulit bisa ikut terurai untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Akibatnya, kolagen yang dikonsumsi melalui suplemen atau makanan tidak dapat dimanfaatkan secara maksimal karena tubuh lebih memprioritaskan kebutuhan energi.

BACA JUGA: Gus Ipul Sebut WFH Tak Boleh Ganggu Pelayanan

Athena menegaskan bahwa kulit sehat tidak hanya bergantung pada asupan kolagen, tetapi juga pada ketersediaan energi yang cukup untuk mendukung proses pembentukannya.

“Kulit sehat bukan hanya tentang memiliki ‘kolagen’ dalam diet. Ini tentang memiliki cukup energi untuk membuat kolagen tersedia bagi rambut, kulit, dan kuku, untuk melindungi dan memeliharanya. Ini dimulai dengan gula,” tutupnya, seperti dikutip dari Antara.

Meski demikian, penting untuk dipahami bahwa konsumsi gula tetap harus dalam batas wajar. Asupan berlebihan tetap berisiko menimbulkan berbagai masalah kesehatan. Oleh karena itu, kunci utamanya adalah keseimbangan, bukan menghindari gula sepenuhnya.

750 x 100 AD PLACEMENT

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like