Timur Tengah Bisa Lomba Bangun Senjata Nuklir Gegara AS-Israel

NarayaPost – Upaya Iran berusaha memiliki senjata nuklir, menjadi salah satu alasan Amerika Serikat (AS) dan Israel menyerang negara di Timur Tengah tersebut.

Rusia menilai serangan AS dan Israel ke Iran, bisa menjadi bumerang.

Serangan yang dimulai pada Sabtu (28/2/2026) itu menewaskan puluhan pejabat Iran, termasuk Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei.

Serangan itu juga memicu perang menyebar ke seluruh Timur Tengah, setelah Iran merespons dengan menyerang sejumlah negara di Arab yang memiliki pangkalan militer AS, termasuk Uni Emirat Arab, Bahrain, hingga Arab Saudi.

Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov mengatakan, serangan AS dan Israel justru membuat kekuatan baru di Iran berpeluang muncul, dan membuat negara itu semakin ingin memiliki senjata nuklir untuk melawan.

“Kekuatan bisa muncul di Iran, kekuatan yang mendukung untuk melakukan persis apa yang ingin dihindari Amerika, yakni memperoleh bom nuklir.”

BACA JUGA: Iran Bilang Trump Ubah Slogan America First Jadi Israel First

“Karena AS tidak menyerang mereka yang memiliki bom nuklir,” ujar Lavrov dikutip dari Reuters, Selasa (3/3/2026).

Perang AS-Israel versus Iran, lanjutnya, juga bisa membuat negara-negara di Timur Tengah berlomba-lomba membangun senjata nuklir.

“Masalah proliferasi nuklir akan mulai lepas kendali.”

“Tujuan mulia yang tampaknya paradoks, yaitu memulai perang untuk mencegah proliferasi senjata nuklir, justru dapat memicu tren yang sepenuhnya berlawanan,” kata Lavrov.

Lavrov menyebut Rusia belum melihat bukti Iran sedang mengembangkan senjata nuklir.

Malah, Israel secara luas dianggap sebagai satu-satunya negara bersenjata nuklir di kawasan itu.

Rusia memiliki hubungan dekat dengan Iran, yang dianggap sangat penting untuk mempertahankan pengaruh di Timur Tengah.

Presiden Rusia Vladimir Putin juga menyebut pembunuhan Khamenei sebagai pembunuhan yang sinis.

Moskow mendesak penghentian perang segera.

Kremlin menyatakan Putin sudah berbicara dengan para pemimpin Arab Teluk pada Senin (2/3/2026).

Putin berjanji akan menyampaikan kepada Iran kekhawatiran mereka tentang serangan balasan Iran sejak perang dimulai.

“Putin tentu akan melakukan segala upaya untuk berkontribusi, setidaknya pada sedikit pengurangan ketegangan,” cetus juru bicara Kremlin Dmitry Peskov.

Arab Saudi Ingin Bertindak

Arab Saudi akan mengambil semua langkah yang diperlukan untuk melindungi negara, kedaulatan, dan warganya, di tengah perang segitiga antara AS-Israel versus Iran.

Kantor berita pemerintah Saudi Press Agency (SPA) melaporkan, kabinet menggelar rapat virtual dengan Putra Mahkota sekaligus Perdana Menteri Mohammad bin Salman (MbS), Selasa.

Dalam rapat itu, mereka membahas situasi terkini dan dampaknya secara regional hingga global.

“(Kabinet) menegaskan Arab Saudi akan mengambil semua langkah yang diperlukan untuk menjaga keamanannya dan melindungi wilayah, warga negara, dan penduduknya,” demikian laporan SPA.

MbS juga membeberkan kontak dan konsultasi yang sudah dilakukan dalam beberapa hari terakhir dengan pemimpin negara lain, termasuk update hasil pertemuan internasional.

Saat berkomunikasi dengan kepala negara lain, MbS membahas situasi di regional dan dampak terhadap kawasan serta komunitas internasional.

BACA JUGA: Harga Mahal Nuklir Iran

Beberapa pemimpin menyatakan solidaritas terhadap kerajaan.

Kabinet Saudi lalu mengapresiasi para pemimpin negara lain yang menyampaikan posisinya, dan mengecam apa yang mereka sebut serangan Iran ke negara lain.

“Kabinet menegaskan kembali solidaritas penuh Arab Saudi dengan negara-negara sahabat, yang wilayahnya menjadi sasaran agresi Iran yang terang-terangan,” imbuh kabinet dalam laporan SPA.

Mereka juga menggarisbawahi kesiapan Saudi memobilisasi semua kemampuan untuk mendukung negara-negara sahabat dalam setiap tindakan yang diambil, sebagai tanggapan terhadap serangan-serangan yang merusak keamanan dan stabilitas regional.

Pernyataan kabinet kerajaan itu muncul di tengah serangkaian serangan Iran terhadap target-target di Saudi, termasuk serangan Iran terhadap kedutaan besar AS di Riyadh

Saudi dan Iran pernah punya riwayat hubungan yang memburuk sebelum akhirnya rujuk pada 2023.

Ketegangan hubungan itu bermula usai Saudi mengeksekusi ulama Syiah Nimr al-Nimr yang berujung pada aksi pembakaran kedutaan Saudi di Teheran.

Selain kasus tersebut, Iran dan Saudi bermusuhan secara tak langsung.

Koalisi Saudi terlibat konflik dengan milisi yang menguasai Yaman, Houthi.

Houthi disebut-sebut sebagai proksi Iran.

Mereka juga dilaporkan mendapat dukungan, persenjataan hingga pendanaan.

Markas CIA Jadi Target

Markas Badan Intelijen Pusat (CIA) di Kedutaan Besar AS di Arab Saudi terkena serangan drone yang diduga milik Iran.

Kedutaan Besar AS yang berada di ibu kota Arab Saudi, Riyadh, menjadi salah satu fasilitas AS yang terdampak dalam konflik ini.

Kementerian Pertahanan Arab Saudi menyatakan, kedutaan itu terkena dua drone yang menyebabkan kebakaran terbatas serta sejumlah kerusakan material.

Misi diplomatik Washington di kerajaan itu memperingatkan warga AS agar menghindari area kedutaan hingga pemberitahuan lebih lanjut.

Pada Selasa, pihak misi juga membatalkan seluruh layanan rutin maupun darurat bagi warga AS.

“⁠Terdapat ancaman serangan rudal dan UAV yang segera terjadi di wilayah Dhahran.”

“Jangan datang ke Konsulat AS,” demikian peringatan keamanan yang disampaikan misi itu.

Menurut sumber yang mengetahui kejadian itu kepada Reuters mengatakan, tidak ada indikasi stasiun itu menjadi target utama serangan.

Sementara, pihak CIA menolak memberikan komentar terkait insiden tersebut. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like