Keyakinan Purbaya BI Bisa Kendalikan Uang Rupiah

Uang Rupiah, mata uang yang digunakan untuk transaksi oleh warga Indonesia.
750 x 100 AD PLACEMENT

NarayaPost – Keyakinan Purbaya Yudhi Sadewa akan nilai tukar rupiah tetap terkendali seiring berbagai langkah stabilisasi yang terus dilakukan Bank Indonesia (BI). Keyakinan tersebut didasarkan pada pengalaman dan kapasitas BI dalam mengelola dinamika pasar keuangan, khususnya di tengah tekanan global yang masih berfluktuasi.

Purbaya menegaskan, Kementerian Keuangan (Kemenkeu) akan terus berkoordinasi secara intensif dengan Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Menurutnya, sinergi kebijakan fiskal dan moneter menjadi kunci utama agar volatilitas rupiah dapat diredam.

“Jadi bank sentral akan menjaga nilai tukar rupiah dan kita berkoordinasi terus dengan bank sentral. Saya pikir mereka cukup ahli dan saya akan serahkan ini ke bank sentral. Mereka cukup jago mengendalikan nilai tukar,” ujar Purbaya di Kantor Kemenkeu, Selasa (27/1).

BACA JUGA: Profil Pendidikan Thomas Djiwandono, Deputi BI Lulusan AS

Nilai Tukar Rupiah Berada di Rp16.768

Berdasarkan data Bloomberg, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD/IDR) tercatat berada di level Rp16.768 per dolar AS pada hari yang sama, menguat sekitar 0,08 persen. Meski masih berada pada level yang relatif tinggi, pergerakan rupiah dinilai menunjukkan tanda-tanda stabilisasi.

Purbaya juga mengungkapkan optimismenya terhadap prospek penguatan rupiah ke depan, sejalan dengan pernyataan Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo dalam konferensi pers Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK). Ia menyatakan kepercayaannya terhadap pandangan BI mengenai arah pergerakan nilai tukar.

“Saya yakin, kan, Pak Gubernur tadi bilang menguat terus. Saya ikut beliau saja,” kata Purbaya.

Keyakinan Purbaya BI Bisa Jaga Nilai Rupiah

Dalam kesempatan tersebut, Perry Warjiyo menyampaikan bahwa Bank Indonesia memandang nilai tukar rupiah ke depan akan bergerak stabil dengan kecenderungan menguat, meskipun pada Senin (26/1) rupiah sempat menyentuh level Rp16.770 per dolar AS. Menurut Perry, stabilitas rupiah ditopang oleh sejumlah fundamental ekonomi domestik yang masih solid.

“Ke depan, nilai tukar diperkirakan akan stabil dengan kecenderungan menguat, didukung oleh imbal hasil yang menarik, inflasi yang rendah, serta prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tetap baik,” ujar Perry.

Untuk menjaga stabilitas tersebut, Bank Indonesia terus meningkatkan intensitas langkah-langkah stabilisasi nilai tukar. Upaya tersebut dilakukan melalui intervensi Non-Delivery Forward (NDF) di pasar luar negeri, serta intervensi di pasar domestik melalui transaksi spot, NDF, dan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.

Selain itu, BI juga mengelola struktur suku bunga instrumen moneter dan memperluas penggunaan swap valuta asing. Langkah ini ditujukan untuk menjaga daya tarik aliran masuk portofolio asing ke aset keuangan domestik, sekaligus memperkuat ketahanan pasar keuangan nasional.

Bank Indonesia Perluas Instrumen Moneter Valuta Asing

“Bank Indonesia juga memperluas instrumen operasi moneter valuta asing melalui transaksi spot dan swap dalam mata uang dolar AS, yuan China, dan yen Jepang terhadap rupiah. Instrumen ini terintegrasi dengan pengembangan pasar uang dan pasar valuta asing untuk mendukung penguatan transaksi mata uang lokal atau Local Currency Transaction,” jelas Perry.

Di sisi kebijakan moneter, Perry menyebut BI masih melihat adanya ruang untuk menurunkan suku bunga acuan atau BI Rate ke depan. Menurutnya, rendahnya inflasi inti memberikan ruang bagi kebijakan moneter yang lebih akomodatif guna mendorong pertumbuhan ekonomi.

BACA JUGA: Tolak Polri Jadi Kementerian, Listyo: Lebih Baik Saya Jadi Petani

“Kami masih melihat ke depan ada ruang penurunan suku bunga lebih lanjut. Kebijakan suku bunga kami diarahkan untuk menjaga stabilitas, karena inflasi inti rendah dan ekonomi perlu didorong tumbuh lebih tinggi,” kata Perry.

Keyakinan Purbaya pun ditambahkan dalam perumusan kebijakan moneter, BI selalu mempertimbangkan perkembangan inflasi, nilai tukar, dan pertumbuhan ekonomi. Inflasi inti pada Desember 2025 tercatat sebesar 2,38 persen, berada di bawah titik tengah sasaran inflasi. Kondisi tersebut mencerminkan bahwa kapasitas ekonomi Indonesia masih lebih besar dibandingkan realisasi pertumbuhan saat ini.

“Bank Indonesia memperkirakan kapasitas produksi nasional untuk dua tahun ke depan berada di kisaran 5,8 hingga 6,2 persen. Pertumbuhan yang masih di bawah kisaran tersebut menjelaskan mengapa inflasi inti kita relatif rendah,” tutup Perry.

750 x 100 AD PLACEMENT

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like