Impor Minyak Mentah Akan Segera Dilakukan, Ini Kata Bahlil

Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, Bloomberg via Getty Images
750 x 100 AD PLACEMENT

NarayaPost – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan bahwa pemerintah telah mulai impor minyak mentah dari Amerika Serikat secara bertahap sebagai bagian dari strategi menjaga keamanan pasokan energi nasional di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global.

Menurut Bahlil, langkah tersebut juga dilakukan untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap pasokan minyak mentah dari kawasan Timur Tengah. Selama ini, sekitar 25 persen kebutuhan minyak mentah Indonesia berasal dari wilayah tersebut dan sebagian besar pengirimannya harus melewati jalur pelayaran strategis di Selat Hormuz.

Impor Minyak Akibat Penutupan Selat Hormuz

Situasi di jalur tersebut menjadi perhatian setelah Iran disebut menutup akses Selat Hormuz di tengah meningkatnya ketegangan dengan Amerika Serikat dan Israel. Penutupan jalur tersebut berpotensi mengganggu distribusi minyak dunia karena Selat Hormuz merupakan salah satu jalur utama perdagangan energi global.

BACA JUGA: KPK Gunakan Pasal Berlapis untuk Tangkap Bupati Pekalongan

“Sekarang sudah mulai jalan. Bertahap, itu kan bertahap tidak bisa sekaligus semuanya datang, karena kita punya daya simpanan tidak cukup,” ujar Bahlil saat ditemui di kantor Kementerian ESDM, Kamis (4/3).

Impor minyak mentah dari Amerika Serikat ini juga berkaitan dengan dokumen kerja sama perdagangan antara Indonesia dan AS yang dikenal sebagai Agreement on Reciprocal Tariff (ART). Dalam kesepakatan tersebut, Indonesia berkomitmen membeli minyak mentah, bahan bakar minyak (BBM), dan gas petroleum cair (LPG) dari Amerika Serikat dengan nilai mencapai sekitar 15 miliar dolar AS.

Harga Pembelian Impor Minyak Bergantung Mekanisme Pasar

Meski demikian, Bahlil menegaskan bahwa harga pembelian tetap akan bergantung pada mekanisme pasar internasional. Pemerintah, bersama perusahaan energi nasional Pertamina, disebut akan melakukan negosiasi untuk mendapatkan harga yang paling kompetitif.

“Harga itu kan harga pasar. Sudah pasti sebelum dilakukan transaksi adalah negosiasi. Saya yakin teman-teman di Pertamina maupun di internal kami punya kemampuan untuk melakukan negosiasi dengan mencari harga yang lebih baik,” kata Bahlil.

Di sisi lain, pemerintah juga menyadari bahwa kapasitas penyimpanan minyak mentah di dalam negeri masih menjadi tantangan utama. Saat ini, cadangan energi nasional Indonesia hanya mampu bertahan sekitar 21 hingga 25 hari apabila terjadi gangguan pasokan.

Karena itu, pemerintah tengah merencanakan pembangunan fasilitas penyimpanan tambahan guna memperkuat ketahanan energi nasional. Targetnya, cadangan energi strategis Indonesia dapat ditingkatkan hingga mencapai 90 hari atau sekitar tiga bulan.

“Masalah kita sekarang adalah di storage. Makanya kami membuat sekarang storage. Kalau tidak begini, kita tidak pernah berpikir,” tegas Bahlil.

Pakai Pasokan BBM dari Singapura

Selain mengimpor minyak mentah secara langsung, Indonesia juga masih mengandalkan pasokan BBM dari Singapura. Negara tersebut selama ini menjadi pusat perdagangan dan pengolahan minyak di kawasan Asia Tenggara.

Namun, Bahlil menjelaskan bahwa sebagian minyak mentah yang diolah di Singapura juga berasal dari kawasan Timur Tengah. Oleh karena itu, dinamika geopolitik di wilayah tersebut tetap memiliki potensi memengaruhi rantai pasok energi di kawasan.

Meski demikian, Bahlil optimistis gangguan pasokan tidak akan berlangsung lama karena banyak negara produsen minyak lain yang dapat menjadi alternatif sumber pasokan. Ia menyebutkan sejumlah negara seperti di kawasan Afrika, termasuk Angola, serta produsen lain seperti Brasil dan Malaysia yang juga memasok minyak mentah ke pasar global.

“Mereka pasti punya beberapa alternatif, dan itu domain mereka. Tapi saya punya keyakinan tidak akan jauh beda dengan Indonesia, karena sumber crude itu tidak satu-satunya dari Middle East. Afrika, Angola, Brasil, sebagian juga dari Malaysia, dan sebagian bisa dari Amerika,” jelasnya.

BACA JUGA: Ditutup Iran Saat Perang Lawan AS-Israel, Apa Itu Selat Hormuz?

Pahami Skala Konsumsi Minyak Global

Bahlil juga menyoroti pentingnya memahami skala konsumsi minyak global. Menurutnya, volume minyak yang melewati Selat Hormuz memang sangat besar, tetapi masih hanya sebagian dari total kebutuhan energi dunia.

Ia mencatat bahwa sekitar 20,1 juta barel minyak per hari melewati jalur Selat Hormuz. Sementara itu, konsumsi minyak dunia mencapai ratusan juta barel per hari.

“Selat Hormuz itu sekitar 20,1 juta barrel per day yang melewati jalur tersebut. Konsumsi global bukan 20 juta, tapi ratusan juta barrel per day. Jadi saya pikir ini tinggal bagaimana kita menyelesaikan dan mencari alternatif pasokan,” ujar Bahlil.

750 x 100 AD PLACEMENT

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like