NarayaPost – Perayaan Lebaran memang identik dengan beragam hidangan bersantan seperti opor ayam, rendang, hingga gulai. Aroma yang menggoda dan cita rasa gurih sering kali membuat banyak orang sulit membatasi diri. Namun, di balik kelezatan tersebut, terdapat risiko kesehatan yang perlu diperhatikan, terutama bagi mereka yang memiliki riwayat kolesterol tinggi atau hipertensi. Di samping menikmati hidangan, Ahli Gizi berikan peringatan agar lebaran tidak menjadi momen yang menyakitkan.
Ahli gizi dari Puskesmas Kramat Jati, Yola Dwi Jayanti, mengingatkan bahwa hidangan berkuah santan tidak hanya tinggi lemak, tetapi juga mengandung kadar garam yang cukup besar. Menurutnya, banyak orang hanya fokus pada santan sebagai sumber lemak, padahal kuahnya juga menyimpan kandungan natrium yang bisa memicu tekanan darah meningkat jika dikonsumsi berlebihan.
Hal serupa disampaikan oleh rekannya, Vina Irhamma, yang menyoroti rendang sebagai salah satu menu favorit Lebaran. Dalam setiap 100 gram rendang, terdapat sekitar 6,48 gram lemak jenuh. Kandungan ini berasal dari perpaduan daging dan santan, serta proses memasak yang lama.
BACA JUGA: Trump Ancam Iran Bila Tak Segera Buka Selat Hormuz!
Menurut Vina, proses pemanasan yang panjang justru membuat kadar lemak jenuh semakin tinggi. “Semakin lama dipanaskan, lemaknya semakin jenuh dan rantainya makin panjang,” ujarnya. Hal ini menjelaskan mengapa konsumsi rendang secara berlebihan dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terutama bagi penderita kolesterol tinggi.
Meski demikian, bukan berarti masyarakat harus menghindari seluruh hidangan khas Lebaran. Yola menegaskan bahwa kunci utama terletak pada pengaturan porsi makan. Satu porsi yang terdiri dari ketupat, sayur nangka, dan opor ayam masih tergolong aman karena total kalorinya sekitar 240 kalori. Jumlah ini masih berada di bawah rata-rata kebutuhan kalori sekali makan yang umumnya berkisar antara 400 hingga 500 kalori.
Masalah utama justru sering muncul dari kebiasaan makan berulang sepanjang hari. Banyak orang cenderung mengonsumsi menu yang sama berkali-kali tanpa jeda dan tanpa variasi. Pola makan seperti ini berpotensi meningkatkan asupan lemak, garam, dan kalori secara berlebihan dalam waktu singkat.
Dosen Departemen Gizi Masyarakat IPB University, Naufal Muharam Nurdin, menambahkan bahwa menjaga pola makan saat Lebaran memang tidak mudah, tetapi tetap penting. Ia menilai tidak perlu terlalu ketat karena Lebaran adalah momen kebahagiaan, namun kontrol tetap harus dilakukan.
Menurutnya, sumber kalori terbesar saat Lebaran sering kali bukan berasal dari makanan utama, melainkan dari camilan seperti kue kering dan makanan manis. Oleh karena itu, penting untuk lebih bijak dalam memilih dan membatasi konsumsi camilan.
Naufal juga menyarankan penerapan konsep “isi piringku”, yaitu setengah piring diisi dengan sayur dan buah, sementara setengah lainnya untuk karbohidrat dan lauk. Pendekatan sederhana ini dinilai efektif untuk menjaga keseimbangan nutrisi.
Bagi penderita diabetes, makanan manis sebaiknya dihindari atau dibatasi secara ketat. Sementara itu, mereka yang memiliki kolesterol tinggi atau hipertensi perlu mengurangi konsumsi makanan berlemak dan tinggi garam.
BACA JUGA: KPK Soal Penahanan Gus Yaqut, Atas Permohonan Keluarga
Tips praktis lainnya adalah menggunakan piring berukuran kecil agar porsi makan lebih terkontrol. Selain itu, mengonsumsi buah seperti apel, pisang, atau pir sebelum makan utama juga dapat membantu menekan keinginan untuk menyantap makanan tinggi lemak dan gula.
Menyajikan buah dan sayur dalam bentuk salad juga bisa menjadi alternatif menu sehat saat Lebaran. Kebiasaan sederhana seperti makan sebelum salat Id juga dianjurkan agar tidak terlalu lapar, sehingga bisa menghindari makan berlebihan setelahnya.
Terakhir, aktivitas fisik tetap perlu dijaga. Setelah menikmati hidangan Lebaran, luangkan waktu untuk bergerak atau berolahraga ringan setidaknya 15 menit di pagi hari. Dengan pola makan yang seimbang dan gaya hidup aktif, masyarakat tetap bisa menikmati hidangan Lebaran tanpa harus mengorbankan kesehatan.