NarayaPost – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat adanya peningkatan signifikan dalam produksi beras nasional pada Februari 2026. Secara tahunan (year on year/yoy), produksi beras tercatat naik sebesar 27,37 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Lonjakan ini menjadi sinyal positif bagi ketahanan pangan nasional, meskipun proyeksi ke depan menunjukkan adanya potensi penurunan.
Deputi Bidang Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menjelaskan bahwa produksi padi pada Februari 2026 diperkirakan mencapai 5,05 juta ton dalam bentuk gabah kering giling (GKG). Angka ini meningkat 27,41 persen dibandingkan Februari 2025 yang hanya mencapai 3,96 juta ton GKG. Sementara itu, jika dikonversikan menjadi beras untuk konsumsi masyarakat, produksinya mencapai sekitar 2,91 juta ton, naik dari 2,28 juta ton pada periode yang sama tahun lalu.
Kenaikan produksi pada Februari ini tidak terlepas dari faktor musiman dan kondisi panen yang relatif baik di sejumlah wilayah. Namun demikian, BPS mengingatkan bahwa tren ini tidak serta-merta berlanjut dalam beberapa bulan ke depan. Untuk periode Maret hingga Mei 2026, potensi produksi padi diperkirakan mencapai 20,68 juta ton GKG, atau mengalami penurunan sebesar 11,12 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025.
BACA JUGA: 12 Orang Diduga Diancam dalam Penanganan Kasus Andrie Yunus
Jika ditarik secara kumulatif, produksi padi sepanjang Januari hingga Mei 2026 diperkirakan mencapai 28,77 juta ton GKG. Angka ini menunjukkan penurunan sebesar 0,65 juta ton atau sekitar 2,22 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Penurunan ini mengindikasikan adanya tantangan dalam menjaga konsistensi produksi di tengah berbagai faktor eksternal yang memengaruhi sektor pertanian.
Hal serupa juga terjadi pada produksi beras. Untuk periode Maret hingga Mei 2026, produksi beras diperkirakan mencapai 11,91 juta ton, turun 11,11 persen atau setara 1,49 juta ton dibandingkan tahun sebelumnya. Secara total, produksi beras sepanjang Januari hingga Mei 2026 diproyeksikan sebesar 16,57 juta ton, atau turun 0,38 juta ton (2,22 persen) secara tahunan.
Selain faktor produksi, BPS juga mencatat adanya penurunan luas panen. Sepanjang Januari hingga Mei 2026, luas panen padi diperkirakan mencapai 5,35 juta hektare, turun sekitar 0,13 juta hektare atau 2,35 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025. Penurunan luas panen ini turut berkontribusi terhadap proyeksi penurunan produksi secara keseluruhan.
Ateng menegaskan bahwa angka-angka proyeksi tersebut masih bersifat dinamis dan dapat berubah tergantung pada kondisi di lapangan. Sejumlah faktor risiko seperti serangan hama, banjir, kekeringan, hingga perubahan waktu panen oleh petani dapat memengaruhi realisasi produksi. Oleh karena itu, diperlukan kewaspadaan dan langkah mitigasi untuk menjaga stabilitas produksi pangan nasional.
BACA JUGA: Cak Imin Sebut Pelayanan Publik Tidak Bisa WFH
Dalam hal sebaran wilayah, potensi panen padi pada Maret hingga Mei 2026 masih terkonsentrasi di Pulau Jawa, terutama di Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Banten. Jawa Timur menjadi salah satu wilayah dengan kontribusi terbesar, khususnya di Kabupaten Bojonegoro, Lamongan, Tuban, Nganjuk, dan Jember.
Sementara itu, di Jawa Barat, potensi panen tersebar di wilayah seperti Majalengka, Subang, Indramayu, Karawang, Cianjur, Sukabumi, dan Cirebon. Untuk Jawa Tengah, daerah dengan potensi panen antara lain Cilacap, Blora, dan Pati. Di luar Jawa, wilayah potensial meliputi Sumatera (Banyuasin, Lampung Tengah, Tulang Bawang, Lampung Selatan, dan Lampung Timur), Sulawesi Selatan (Bone dan Pinrang), serta Nusa Tenggara (Lombok Tengah dan Sumbawa).
Data ini menunjukkan bahwa meskipun terjadi lonjakan produksi pada awal tahun, tantangan ke depan tetap besar. Stabilitas produksi beras nasional sangat bergantung pada kondisi iklim, luas panen, serta keberhasilan pengendalian risiko di sektor pertanian.