Hashim Beberkan Latar Belakang Gagasan Program MBG oleh Prabowo

Utusan Khusus Presiden Bidang Iklim dan Energi, Hashim Djojohadikusumo, memaparkan asal-usul gagasan program Makan Bergizi Gratis (MBG).

NarayaPost – Utusan Khusus Presiden Bidang Iklim dan Energi, Hashim Djojohadikusumo, memaparkan asal-usul gagasan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang kini menjadi salah satu program unggulan dalam pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Menurutnya, ide tersebut sebenarnya telah muncul sejak hampir dua dekade lalu, jauh sebelum Prabowo aktif dalam kancah politik nasional seperti saat ini.

Hashim menjelaskan bahwa pemikiran mengenai program MBG sudah dicetuskan sejak tahun 2006. Pada masa itu, Prabowo belum memiliki partai politik, bahkan belum memiliki rencana konkret untuk mendirikan kendaraan politik seperti Partai Gerindra. Meski demikian, ia telah menunjukkan perhatian besar terhadap isu kesehatan masyarakat, khususnya persoalan stunting yang dinilai sebagai ancaman serius bagi masa depan bangsa.

Hashim Beberkan Kekhawatiran Angka Stunting

Dalam sebuah acara ABPEDNAS Jaga Desa Awards 2026 di Jakarta, Hashim mengisahkan bagaimana kekhawatiran terhadap tingginya angka stunting menjadi titik awal lahirnya gagasan tersebut. Ia mengingat bahwa pada tahun 2006, prevalensi stunting di Indonesia mencapai sekitar 30 persen berdasarkan data Kementerian Kesehatan saat itu. Angka tersebut dinilai cukup mengkhawatirkan karena menyangkut kualitas generasi masa depan.

BACA JUGA: Studi Ungkap Lobster Mampu Merasakan Nyeri, Ilmuwan Serukan Larangan Memasak dalam Keadaan Hidup

Menurut Hashim Djojohadikusumo, Prabowo Subianto sejak awal telah memiliki pandangan jauh ke depan mengenai dampak serius dari persoalan stunting. Ia tidak hanya melihatnya sebagai isu kesehatan semata, tetapi juga sebagai ancaman struktural terhadap kualitas sumber daya manusia Indonesia di masa depan. Dalam perhitungannya, jika masalah ini tidak segera ditangani secara sistematis, maka dalam kurun waktu sekitar dua dekade, Indonesia berisiko menghadapi situasi di mana sekitar 30 persen angkatan kerja berasal dari individu yang mengalami stunting sejak masa kanak-kanak.

Kondisi tersebut tentu tidak bisa dipandang remeh. Stunting bukan hanya berkaitan dengan pertumbuhan fisik yang terhambat, tetapi juga berimplikasi langsung pada perkembangan kognitif, kemampuan belajar, serta produktivitas individu saat memasuki usia kerja. Dengan kata lain, generasi yang mengalami stunting berpotensi memiliki kapasitas kerja yang lebih rendah, baik dari sisi keterampilan, daya pikir, maupun kemampuan beradaptasi terhadap perubahan.

Kekhawatiran tersebut, lanjut Hashim, kini terasa semakin relevan setelah dua dekade berlalu. Ia menyinggung kemungkinan bahwa prediksi tersebut mulai menjadi kenyataan, di mana sebagian tenaga kerja Indonesia, baik di sektor pedesaan, industri, maupun perkotaan, masih menghadapi dampak dari stunting. Kondisi ini tidak hanya berkaitan dengan pertumbuhan fisik, tetapi juga berpengaruh pada perkembangan kognitif.

Individu Alami Stunting Miliki Kecerdasan yang Lebih Rendah

Hashim juga mengungkapkan bahwa individu yang mengalami stunting umumnya memiliki rata-rata tingkat kecerdasan atau IQ yang lebih rendah dibandingkan standar umum. Ia menyebut angka rata-rata IQ sekitar 72 pada kelompok yang mengalami stunting, sementara rata-rata IQ manusia secara umum berada di kisaran 100. Perbedaan ini dinilai signifikan dan berpotensi memengaruhi kualitas sumber daya manusia secara keseluruhan.

BACA JUGA: Ikan Sapu Sapu Perlu Dimusnahkan? Ini Alasannya

Berangkat dari kekhawatiran tersebut, gagasan program Makan Bergizi Gratis dirancang sebagai salah satu solusi untuk memutus rantai stunting sejak dini. Program ini menitikberatkan pada pemenuhan kebutuhan gizi anak-anak, terutama pada masa pertumbuhan yang krusial. Dengan memastikan asupan nutrisi yang cukup dan seimbang, diharapkan generasi mendatang dapat tumbuh dengan kondisi fisik dan kognitif yang optimal.

Lebih jauh, Hashim menekankan bahwa program MBG bukan sekadar kebijakan jangka pendek, melainkan bagian dari strategi besar dalam membangun kualitas manusia Indonesia. Ia melihat bahwa investasi pada gizi anak merupakan investasi jangka panjang yang hasilnya baru akan terlihat dalam beberapa dekade ke depan.

Dengan latar belakang tersebut, program MBG kini ditempatkan sebagai prioritas dalam pemerintahan Prabowo. Pemerintah berharap langkah ini dapat menjadi solusi konkret dalam menekan angka stunting sekaligus meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia secara berkelanjutan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like